Menurutnya kegiatan ini secara rutin mereka gelar di wilayah NTT. Tahun lalu kegiatan yang sama digelar di Lembata. Tahun ini kembali digelar di Kota Kupang, karena masih banyak nelayan yang belum tersentuh. Untuk kegiatan SLCN Tahun 2022 ini diikuti 25 orang peserta. 20 orang dari para nelayan di Kota Kupang dan 5 orang dari petugas penyuluh perikanan.

Sebelumnya dalam arahannya pada acara puncak peringatan Hari Meteorologi Internasional ke-72, Presiden RI, Joko Widodo menyampaikan fenomena perubahan iklim di dunia sudah semakin nyata. Cuaca dan iklim ekstrem makin sering terjadi dan berisiko.

Sebagai negara agraris, Indonesia sangat terdampak akibat perubahan tersebut yang mengakibatkan produktivitas pangan menurun. Karena itu Presiden mengimbau agar info cuaca yang diberikan BMKG diperhatikan secara serius. Perlu diformulasikan kebijakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta upaya penanganannya.
Presiden menilai perlu ada sistem peringatan dini yang handal dengan memanfaatkan teknologi untuk membangun kesadaran dini pada masyarakat. Edukasi yang berkelanjutan perlu dilakukan agar masyarakat dapat merespons secara cepat risiko yang timbul akibat perubahan cuaca ekstrem. Presiden juga mendorong diperkuatnya kolaborasi untuk adaptasi dan mitigasi risiko bencana akibat perubahan cuaca. 
Hal senada juga disampaikan Kepala BMKG Pusat, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc, Ph.D. Menurutnya aksi mitigasi dan adaptasi perlu dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan pentahelix untuk mencegah korban jiwa dan kerusakan.