Hal yang lumrah memang, jika saling mencintai diantara sesama yang mencintai. Tetapi akan menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri manakala kita mampu mencintai mereka yang tidak mencintai kita. Mengapa? Kebahagiaan yang sulit diukur secara material adalah ketika kita mampu mencintai mereka yang tak mencintai kita. Tuhan adalah buktinya. Ia tetap mencintai semua mereka yang memusuhi-Nya bahkan harus mengalami peristiwa salib untuk keselamatan kita walaupun dalam keseharian selalu ada bentrokan dalam pemahaman tradisi maupun secara pewartaan pada aspek lainnya diantara Yesus dan masyarakat pada zaman-Nya. Namun justru kebahagiaan selalu punya jalan tersendiri ketika kita mampu mengubah sikap saling memusuhi, sikap saling mencibir, mendendam, membicarakan kejelekan sesama dengan tetap menebarkan virus cinta kasih.
Tuhan mencintai sesama bahkan dengan mengorbankan diri-Nya sekalipun Dia mengalami penolakan di mana-mana. Tetapi tujuan perutusan-Nya sangat jelas: memberi kedamaian dan keselamatan bagi semua termasuk bagi yang membenci-Nya.





Tinggalkan Balasan