“Dengan disyaratkan kepada seluruh pelajar untuk memiliki tabungan, sebenarnya kita mau membudayakan pentingnya menabung sejak dini. Anak-anak diajak untuk merencanakan masa depannya sendiri sejak dini,” jelasnya dan menambahkan, upayanya berhasil dan kini tak sedikit anak di kabupaten itu yang sudah memiliki tabungan.

Anton Hadjon menegaskan, aksi menabung sejak dini bukan soal berapa nilai uang yang ditabung, melainkan yang terpenting adalah niat siswa untuk menabung.

Apalagi di Flores Timur terlalu banyak layanan simpan pinjam yang ilegal, dan bahkan mereka menyebutnya koperasi selamat pagi. Banyak kasus sudah terjadi di sana, tentang investasi bodong dan sebagainya.

“Nah ini yang mau kita perangi, agar masyarakat teredukasi tentang jenis simpanan yang sehat dan diakui,” ujarnya.

Pemerintah Kabupten Flores Timur sedang berusaha agar masyarakat berhubungan langsung dengan lembaga keuangan yang resmi bukan yang tidak resmi.

Sehingga melalui Bank NTT ketika ada program untuk pelajar, maka pihaknya menyambut baik. Upaya ini yang diandalkan untuk memerangi rentenir di masyarakat.

Pihaknya terus mendorong layanan jasa perbankan maupun koperasi, untuk menggunakan pola kerja rentenir yakni memangkas birokrasi pelayanan dan memberi layanan yang cepat sehingga masyarakat punya kesempatan memilih bank yang legal.

“Dan OJK mengikuti perjalanan kami dengan baik karena pada 2019, saya diundang menjadi pembicara di Maumere oleh OJK, dan saya katakan  bahwa problem yang sangat serius di Flotim adalah adanya rentenir sehingga saat itu bersama OJK, kami berdiskusi. Syukurlah mulai berkurang dn inilah yang membuat kita mendapatkan penghargaan,” tutup Anton Hadjon. (*)