Sebagai orang beriman, kita menyatakan diri sebagai orang-orang yang percaya kepada Kristus. Bahkan kita menyebut diri sebagai pengikut Kristus. Maka kita diajak untuk menjadi pribadi yang tak semata-mata percaya pada sesuatu yang dapat mengenyangkan diri kita secara partial atau momental. Iman yang kita bangun dalam diri pada akhirnya harus dinyatakan lebih dari sekedar hal-hal fisik. Atau justeru sebaliknya harus dipahami bahwa hal-hal fisik yang menjadi berkat bagi kita perlu dinyatakan sebagai syukur kita pada Tuhan secara utuh.

Pada porsi inilah, kita kadang keliru memaknai berkat Tuhan. Kadang kita memaknai berkat Tuhan semata soal tampilan yang terlihat di depan mata atau yang memuaskan kebutuhan duniawi kita. Lebih dari pada itu mungkin saja tidak. Atau bahkan kita baru akan percaya kepada Tuhan jika secara publik ada pembuktian yang turut dirasakan secara pandangan mata duniawi. Lebih dari itu berkat Tuhan yang tak tampak malah menjadi pertanyaan yang tak kunjung kita perjuangkan untuk mendalami rahasia cinta Tuhan yang nyata bagi kita.