“Hal tersebutlah mendorong saya untuk mengembangkan tempat ini menjadi tempat wisata, pasca purna bakti sebagai pegawai Perusahan Listrik Negara,” ucap Petrus Fi.
Dikatakanya, pembangunan tempat wisata ini mulai dikerjakan sejak tahun 2017. Dengan kondisi keuangan secukupnya, Petrus mulai membangun, dan menata akses jalan menuju perbukitan, agar pengunjung bisa menikmati keindahan alam dari ketinggian.
“Selain akses jalan, saya juga membangun Lopo yang beratapkan alang-alang, dan fasiltas pendukung lainnya, seperti MCK, tempat parkir, dan Cafe, agar para pengunjung merasa nyaman ketika berkunjung ke tempat ini,” tutur Petrus Fi.
Uniknya, Nio Lena bukan saja menawarkan pemandangan alam yang indah, tapi para pengunjung juga akan disajikan dengan makanan-makanan lokal yang sangat khas, seperti pisang, ubi, ngeta (urap), dan berbagai macam olahan pangan lokal lainnya.
Ke depan, manajemen Nio Lena berencana menempatkan para penenun tradisional (warga Wolo Topo) di lokasi tersebut, agar pengujung bisa melihat secara langsung, bagaimana proses pembuatan Lawo dan Luka (Sarung Wanita dan Pria) secara tradisional, sekaligus untuk memperkenalkan budaya Kabupaten Ende.





Tinggalkan Balasan