KUPANG, KN — Menyadari krusialnya fase tumbuh kembang remaja di tengah paparan arus informasi modern, Polsek Maulafa mengambil langkah preventif dengan turun langsung ke lembaga pendidikan. Upaya membentengi moral generasi muda ini diwujudkan melalui sosialisasi bertajuk “Dampak Pergaulan Bebas” yang digelar di SMP IL KAPTEN Nasipanaf, Kelurahan Penfui, Kecamatan Maulafa, pada Rabu (15/7).

Agenda edukatif ini dijalankan di bawah payung program nasional Police Goes to School. Program ini dirancang khusus untuk memupuk kesadaran dini para pelajar agar terhindar dari perilaku menyimpang dan tetap fokus pada kegiatan akademik yang positif.

Sosialisasi Interaktif di Hadapan Puluhan Pelajar

Kehadiran Kapolsek Maulafa, AKP M.L. Petterson Riwu, S.H., didampingi oleh kekuatan penuh jajaran fungsi bimbingan masyarakat dan humas. Tampak hadir dalam rombongan antara lain Kasihumas Polsek Maulafa AIPTU David Luhi, Panit 1 Binmas AIPDA Yohanes Daepanie, S.H., Panit 2 Binmas AIPDA Mafud Nainatun, serta Bhabinkamtibmas Kelurahan Penfui AIPTU Siprianus Bait, S.H..

Kedatangan korps berbaju cokelat ini disambut hangat oleh Kepala SMP IL KAPTEN Nasipanaf, Yuliana Suat, S.Ag. Rombongan kemudian diarahkan menuju ruang kelas yang telah dipadati oleh 80 siswa-siswi perwakilan dari kelas VII, VIII, dan IX yang didampingi oleh para guru wali kelas.

Dalam pemaparannya, AKP Petterson Riwu mengupas tuntas seluk-beluk kenakalan remaja. Materi yang disajikan secara komprehensif tersebut mencakup definisi pergaulan bebas, klasifikasi perilaku menyimpang yang kerap menjangkiti dunia sekolah, hingga dampak destruktifnya secara fisik dan psikologis. Kapolsek juga membedah faktor internal dan eksternal pemicu kenakalan remaja, sekaligus membagikan tips menyaring lingkaran pertemanan yang sehat di lingkungan rumah maupun sekolah.

Aparat kepolisian secara khusus menyoroti ancaman nyata seperti seks bebas, penyalahgunaan narkotika, konsumsi alkohol, hingga tawuran pelajar yang dinilai dapat menghancurkan cita-cita anak dalam sekejap. Sesi edukasi ini berlangsung dua arah dengan adanya ruang diskusi interaktif, di mana para siswa diberikan kebebasan untuk mengutarakan pertanyaan seputar dinamika pergaulan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.