Sebanyak 1.288 peserta juga telah mengikuti peningkatan kapasitas terkait pangan lokal dan gizi seimbang.
Kampanye pangan dan gizi kemudian diintegrasikan ke 37 puskesmas dan 27 gereja di TTS. Salah satu terobosannya adalah Gerakan Ayah sebagai Konselor Pangan dan Gizi (GASELOR), yang melibatkan lebih dari 40 Duta Ayah untuk mendorong keterlibatan laki-laki dalam pemenuhan gizi keluarga.
Di bidang pendidikan, Land4Lives bersama Dinas Pendidikan TTS mengembangkan kurikulum muatan lokal “Pangan Lokal untuk Ketahanan Iklim”. Kurikulum tersebut telah diujicobakan di lebih dari 30 sekolah dan menjangkau sekitar 2.000 murid.
Sebanyak 20 guru dan tim pengembang kurikulum telah mendapatkan pelatihan. Pada tahun ajaran 2026/2027, seluruh SD dan SMP di Kabupaten TTS telah mendapatkan pelatihan untuk menerapkan kurikulum tersebut.
Kurikulum itu juga direkomendasikan Badan Pangan Nasional dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk direplikasi secara nasional.
Pengetahuan pangan lokal juga dihimpun melalui WikiPangan NTT yang memuat lebih dari 70 artikel tentang bahan pangan lokal, mulai dari cara budi daya hingga nilai gizinya.
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana, Tomycho Olviana, mengatakan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyediakan data dan hasil penelitian terkait persoalan pertanian dan ketahanan pangan di NTT.
Menurut dia, penelitian akademik dapat membantu pemerintah mengidentifikasi persoalan di berbagai wilayah dan menjadi bahan dalam merumuskan kebijakan.
“Peran kami akademisi bukan hanya turun menyelesaikan masalah, tapi kami juga sebagai peneliti yang menyelesaikan apa yang terjadi,” jelasnya.
Tomycho mengatakan NTT memiliki potensi pertanian yang dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan, termasuk mendukung program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis.
Menurut dia, ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan kerentanan terhadap perubahan iklim, tetapi juga menyangkut kedaulatan pangan dan pembangunan yang berbasis bukti ilmiah.









Tinggalkan Balasan