Karena itu, menurut Sonya, diperlukan sistem pertanian yang mampu menjaga produksi pangan sekaligus mempertahankan fungsi ekologis.

“Agroforest itu merupakan jalan tengah,” ujar Sonya.

Ia mengatakan agroforestri dapat membantu menyediakan pangan yang lebih beragam sekaligus mempertahankan jasa ekosistem. Untuk itu, riset, edukasi, advokasi dan penguatan kapasitas petani kecil serta rumah tangga perlu terus dilakukan dengan menyesuaikan potensi lokal.

Pengetahuan tersebut, lanjutnya, perlu dihubungkan dengan kebijakan dan tata kelola lahan agar upaya memperkuat sistem pangan tidak berjalan sendiri-sendiri.

NTT dipilih sebagai lokasi pertama Simpul Pangan Nusantara karena karakter wilayahnya yang menghadapi musim kemarau panjang dan curah hujan yang tidak menentu. Perubahan iklim turut meningkatkan tantangan terhadap sistem pangan.

Di tengah kondisi tersebut, NTT memiliki kekayaan pangan lokal seperti sorgum, jagung dan berbagai jenis umbi-umbian yang selama ini menjadi bagian dari strategi masyarakat menghadapi kondisi iklim kering.

Namun, sebagian pengetahuan mengenai pangan lokal tersebut belum terdokumentasi dengan baik sehingga berisiko hilang.

Research Office Landscape Alliance, Balgies Devi Fortuna, mengatakan selama bekerja di berbagai desa, pihaknya menemukan banyak pengetahuan pangan lokal yang tersebar di komunitas, lembaga swadaya masyarakat, peneliti, mahasiswa dan akademisi.

“Kami merasa itu butuh wadah untuk dirangkum dalam suatu acara. Dan akhirnya kami mengadakan Simpul Pangan Nusantara ini untuk menjadi sebuah wadah supaya kita bisa share learning untuk semua orang,” ujar Balgies.

Penguatan pengetahuan pangan lokal sebelumnya telah dilakukan melalui program Land4Lives yang dijalankan Landscape Alliance bersama Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan sejak 2021 dengan dukungan pemerintah Kanada.

Melalui program kebun dapur, masyarakat didorong memanfaatkan pekarangan maupun lahan komunal sebagai sumber pangan bergizi. Hingga kini, pendekatan tersebut telah menjangkau 43 kebun pangan komunal dan 771 kebun pekarangan keluarga, didukung delapan rumah benih lokal.