Kupang, KN – Beragam pengetahuan dan praktik pangan lokal di Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai dihimpun dan dipertemukan dalam forum ilmiah Simpul Pangan Nusantara yang digelar di Kupang, Rabu (16/9/2026).
Sebanyak 31 makalah dan 18 poster ilmiah dipresentasikan dalam konferensi tentang sistem pangan berkelanjutan tersebut. Forum ini mempertemukan mahasiswa, akademisi, pemerintah daerah dan pegiat pangan untuk membahas ketahanan pangan NTT dari tingkat rumah tangga hingga kebijakan pembangunan daerah.
Kepala Bapperida NTT, Theresia M. Florensia, mengatakan hasil konferensi akan menjadi salah satu bahan bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pangan dan gizi.
“Secara khusus kami sedang menyusun RAD pangan dan gizi, dan hasil ini akan diintegrasikan ke dalam RAD Pangan dan Gizi,” ujar Theresia.
Menurut dia, hasil penelitian yang relevan dengan kebutuhan pembangunan juga akan dipertimbangkan dalam strategi pembangunan daerah.
Theresia mengatakan sektor pertanian memiliki peran penting dalam perekonomian NTT. Karena itu, peningkatan produksi perlu diikuti dengan penguatan rantai nilai dan pengolahan hasil agar manfaatnya lebih banyak dirasakan petani, nelayan dan peternak.
Ia menyebut sebagian kebutuhan pangan NTT masih harus didatangkan dari luar daerah karena produksi lokal belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan.
Pemerintah, kata Theresia, mendorong peningkatan produksi dengan mempertimbangkan karakteristik masing-masing wilayah, termasuk pengembangan padi dan hortikultura di Flores serta potensi perkebunan, perikanan dan kelautan di wilayah lainnya.
Penguatan hilirisasi hasil perikanan juga menjadi perhatian pemerintah. Pengolahan ikan melalui industri maupun UMKM dinilai dapat menjaga ketersediaan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat ketika produksi ikan melimpah.
Direktur Landscape Alliance Asia, Sonya Dewi, mengatakan persoalan pangan tidak dapat dipisahkan dari pertanian dan hutan. Perubahan pola konsumsi dapat meningkatkan kebutuhan lahan pertanian dan berpotensi menambah tekanan terhadap tutupan hutan apabila tidak dikelola secara berkelanjutan.









Tinggalkan Balasan