KUPANG, KN — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pemprov NTT) terus mendorong optimalisasi komoditas lokal agar tidak lagi dijual mentah dengan harga murah. 

Langkah konkret ini diwujudkan melalui peluncuran program One Village One Product (OVOP) dengan produk unggulan Bawang Merah Goreng di Desa Sumlili pada Kamis (3/9).

Suasana di lokasi kegiatan berlangsung meriah dan hangat di bawah naungan tenda luar ruangan.

Kedatangan rombongan pejabat disambut oleh tarian adat serta masyarakat yang mengenakan pakaian tradisional kain tenun khas daerah.

 Di sekitar area acara, jajaran meja pameran dipenuhi oleh produk olahan kemasan bawang goreng hasil karya kelompok usaha warga lokal yang kompak berseragam, serta komoditas pertanian segar seperti tomat, semangka, dan mentimun.

Inisiatif ini dirancang untuk mengubah pola rantai pasok tradisional masyarakat dari yang sebelumnya sekadar “tanam →panen → jual” menjadi rantai nilai bernilai tambah: “tanam → olah → kemas → jual”. 

Perubahan pola ini terbukti mampu mendongkrak perekonomian warga secara signifikan. 

Sebagai gambaran, tiga kilogram bawang merah mentah yang biasanya bernilai sekitar Rp60 ribu, mampu menghasilkan nilai jual hingga Rp300 ribu setelah diolah menjadi produk bawang goreng siap konsumsi.

Gubernur NTT, Melki Laka Lena, menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga agar nilai tambah komoditas pertanian tetap dirasakan langsung oleh masyarakat desa. Pemprov NTT mendukung penguatan ini melalui alokasi intervensi anggaran sebesar Rp100 juta per desa.

“Jangan biarkan hasil bumi NTT pergi dengan harga murah. Inilah semangat OVOP dan lewat intervensi Rp100 juta per desa dari Pemprov NTT: kita ingin nilai tambah itu tetap tinggal di desa, dinikmati petani, UMKM, dan masyarakat,” ujar Melki Laka Lena.

Melalui program ini, Desa Sumlili diharapkan menjadi percontohan bagi desa-desa lain di wilayah Nusa Tenggara Timur agar lebih berani dan mandiri dalam mengolah potensi daerahnya.

“Dari Sumlili, saya ingin semakin banyak desa berani berkata: ‘Potensi kita, kita olah. Produk kita, kita banggakan.’ Kalau hasil bumi kita bisa diolah sendiri, kenapa harus selalu dijual mentah?” tegasnya.

Acara peluncuran tersebut ditutup dengan penyerahan bantuan secara simbolis serta peninjauan langsung lapak pameran produk olahan UMKM lokal oleh jajaran Pemprov NTT dan tokoh masyarakat setempat. (agn)