Di tengah derasnya berbagai komentar di media sosial, termasuk nada-nada sinis yang mempertanyakan kerja pemerintah, realitas di lapangan menghadirkan cerita yang berbeda. Warga bertemu langsung dengan pemimpinnya, menerima bantuan, berbicara, dan tersenyum bersama.
Tidak semua persoalan selesai malam itu. Tetapi ada pekerjaan besar yang sedang dilakukan. Ada beras yang dibawa. Ada air minum yang disalurkan. Ada kebutuhan warga yang didengar. Dan ada kehadiran pemerintah yang dirasakan secara langsung.
Karena itu, senyum warga Poka malam itu seolah menjadi jawaban tersendiri atas berbagai suara di ruang digital. Bukan dengan perdebatan. Bukan dengan saling membalas komentar. Melainkan dengan kerja nyata di lapangan.
Penanganan gempa Flores memang tidak berhenti pada bantuan tanggap darurat. Setelah kebutuhan mendesak terpenuhi, pemerintah harus menghadapi pekerjaan yang lebih panjang: transisi menuju pemulihan, rehabilitasi, hingga rekonstruksi rumah warga dan fasilitas publik yang terdampak.
Untuk itu, koordinasi antara Pemprov NTT, pemerintah kabupaten, pemerintah pusat, TNI-Polri, dan berbagai pihak menjadi penting agar proses penanganan berjalan terpadu.
Malam di Poka akhirnya bukan sekadar cerita tentang bantuan yang diserahkan.
Itu adalah cerita tentang perjumpaan.
Tentang seorang gubernur yang memilih tetap berada di tengah warga setelah agenda lapangan selesai. Tentang masyarakat yang sedang berusaha bangkit dari bencana. Dan tentang senyum yang muncul di tengah situasi sulit.
Di dunia maya, suara bisa datang dan pergi begitu cepat. Tetapi di Poka malam itu, warga melihat sendiri apa yang datang kepada mereka: bantuan, perhatian, dan kehadiran. Dan terkadang, sebuah senyum yang lahir dari perjumpaan langsung antara pemimpin dan rakyat jauh lebih kuat daripada seribu komentar di media sosial. (oan/ab)









Tinggalkan Balasan