Ruteng, KN – Malam telah turun di Poka, Desa Longko, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai. Di tengah suasana pascagempa Flores yang masih menyisakan kecemasan, sebuah pertemuan sederhana berlangsung di Aula Paroki St. Fransiskus Xaverius Poka, Jumat (21/8/2026).

Tidak ada panggung besar. Tidak ada seremoni yang berlebihan. Yang terlihat adalah wajah-wajah warga yang datang dengan harapan, bertemu dengan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena yang datang langsung ke tengah mereka.
Senyum pun menjadi bahasa yang sederhana malam itu.

Gubernur Melki menyerahkan bantuan kebutuhan dasar bagi masyarakat terdampak gempa. Sebanyak 150 karung beras, 150 dos mi instan, terpal, bantal, air minum, serta sejumlah kebutuhan lainnya diserahkan secara simbolis kepada Romo Endick yang mewakili masyarakat.

Bantuan itu mungkin tidak menghapus seluruh kesulitan yang dirasakan warga. Namun, bagi masyarakat yang sedang menghadapi situasi pascabencana, kehadiran pemerintah di tengah mereka memiliki arti yang lebih besar dari sekadar barang yang dibawa.

Ada rasa bahwa mereka tidak berjalan sendiri. Gubernur Melki berada di Poka bersama rombongan Komisi IX DPR RI untuk melihat secara langsung kondisi masyarakat terdampak gempa Flores. Setelah agenda lapangan bersama Komisi IX selesai, ia tidak langsung meninggalkan lokasi.

Malam itu, langkahnya berlanjut menuju aula paroki untuk bertemu warga dan menyerahkan bantuan.

Di antara warga yang hadir, senyum dan sapaan menjadi pemandangan yang menyejukkan. Jarak antara seorang kepala daerah dan masyarakat yang sedang dilanda bencana seolah menjadi lebih dekat.

Di situlah sebuah pesan sederhana terasa kuat: pemerintah tidak cukup hanya hadir melalui laporan dan angka, tetapi harus hadir ketika rakyat membutuhkan.

Gempa telah membuat banyak warga cemas. Rumah dan fasilitas publik terdampak, sementara kebutuhan dasar harus tetap dipenuhi. Dalam situasi seperti itu, perhatian kecil sekalipun dapat menjadi sumber kekuatan.
Malam di Poka memperlihatkan sisi tersebut.

Di tengah derasnya berbagai komentar di media sosial, termasuk nada-nada sinis yang mempertanyakan kerja pemerintah, realitas di lapangan menghadirkan cerita yang berbeda. Warga bertemu langsung dengan pemimpinnya, menerima bantuan, berbicara, dan tersenyum bersama.

Tidak semua persoalan selesai malam itu. Tetapi ada pekerjaan besar yang sedang dilakukan. Ada beras yang dibawa. Ada air minum yang disalurkan. Ada kebutuhan warga yang didengar. Dan ada kehadiran pemerintah yang dirasakan secara langsung.

Karena itu, senyum warga Poka malam itu seolah menjadi jawaban tersendiri atas berbagai suara di ruang digital. Bukan dengan perdebatan. Bukan dengan saling membalas komentar. Melainkan dengan kerja nyata di lapangan.

Penanganan gempa Flores memang tidak berhenti pada bantuan tanggap darurat. Setelah kebutuhan mendesak terpenuhi, pemerintah harus menghadapi pekerjaan yang lebih panjang: transisi menuju pemulihan, rehabilitasi, hingga rekonstruksi rumah warga dan fasilitas publik yang terdampak.

Untuk itu, koordinasi antara Pemprov NTT, pemerintah kabupaten, pemerintah pusat, TNI-Polri, dan berbagai pihak menjadi penting agar proses penanganan berjalan terpadu.

Malam di Poka akhirnya bukan sekadar cerita tentang bantuan yang diserahkan.
Itu adalah cerita tentang perjumpaan.
Tentang seorang gubernur yang memilih tetap berada di tengah warga setelah agenda lapangan selesai. Tentang masyarakat yang sedang berusaha bangkit dari bencana. Dan tentang senyum yang muncul di tengah situasi sulit.

Di dunia maya, suara bisa datang dan pergi begitu cepat. Tetapi di Poka malam itu, warga melihat sendiri apa yang datang kepada mereka: bantuan, perhatian, dan kehadiran. Dan terkadang, sebuah senyum yang lahir dari perjumpaan langsung antara pemimpin dan rakyat jauh lebih kuat daripada seribu komentar di media sosial. (oan/ab)