Weetebula, KN – Rabu, 1 Juli 2026, menjadi hari yang tak akan mudah dilupakan oleh Mama Anastasia Djangga Dewa. Setelah bertahun-tahun menjalani hari-hari tanpa aliran listrik di rumahnya, perempuan lanjut usia yang tinggal di Desa Weelonda, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya itu akhirnya dapat menikmati terang lampu di rumahnya.
Dengan mata berkaca-kaca, Mama Anastasia mengungkapkan rasa syukurnya saat Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, meresmikan Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) di kediamannya.
“Terima kasih banyak, Bapak Gubernur. Rumah saya sekarang sudah tidak gelap lagi,” ucapnya penuh haru.
Bagi Mama Anastasia, hadirnya listrik bukan sekadar menyalakan lampu, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi keluarganya. Kini, aktivitas sehari-hari menjadi lebih mudah, dan rumah yang selama ini gelap pada malam hari telah berubah menjadi tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali.
Kisah hadirnya listrik di rumah Mama Anastasia berawal dari sebuah pengaduan sederhana melalui Platform MeJa Rakyat (Melki-Johni Melayani Masyarakat). Paulus Bili, anggota keluarga Mama Anastasia, menceritakan bahwa dirinya menyampaikan permohonan bantuan melalui platform tersebut pada Desember tahun lalu.
“Waktu itu saya membuat pengaduan ke MeJa Rakyat. Puji Tuhan, responsnya sangat cepat. Setelah itu memang dilakukan survei lapangan, dan hasilnya kami dinyatakan memenuhi syarat sebagai penerima bantuan,” jelas Paulus.
Ia mengaku sangat bersyukur atas perhatian yang diberikan Pemerintah Provinsi NTT. “Anak-anak sekarang sudah bisa belajar pada malam hari dengan lebih baik. Untuk kebutuhan sehari-hari di rumah juga jauh lebih terbantu. Terima kasih kepada Bapak Gubernur dan Pemerintah Provinsi NTT atas bantuan ini,” katanya.
Platform MeJa Rakyat (Melki-Johni Melayani Masyarakat) sendiri merupakan wadah partisipasi masyarakat yang dibentuk Pemerintah Provinsi NTT sebagai ruang penyampaian aspirasi, kritik, saran, maupun pengaduan terkait pelayanan publik agar setiap persoalan masyarakat dapat ditindaklanjuti secara cepat dan tepat.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Melki Laka Lena menegaskan bahwa pemerintah hadir untuk memastikan masyarakat, khususnya keluarga kurang mampu, dapat menikmati layanan dasar yang layak, termasuk akses terhadap listrik.
“Ini adalah bentuk perhatian pemerintah kepada masyarakat yang membutuhkan. Kita ingin memastikan semakin banyak keluarga di NTT yang bisa menikmati listrik karena listrik bukan lagi kebutuhan sekunder, tetapi sudah menjadi kebutuhan dasar untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ujar Melki.
Ia berharap bantuan tersebut dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendukung aktivitas sehari-hari, pendidikan anak-anak, hingga peningkatan kesejahteraan keluarga.
Program bantuan pemasangan meteran listrik gratis tersebut dibiayai melalui APBD Provinsi NTT dengan nilai sekitar Rp1,7 juta untuk setiap sambungan, mulai dari pengadaan hingga pemasangan meteran listrik.
Untuk Tahun Anggaran 2025, Pemerintah Provinsi NTT menyediakan bantuan pemasangan listrik 450 VA bagi 140 kepala keluarga di Kabupaten Sumba Barat Daya yang telah memenuhi persyaratan sebagai penerima manfaat.
Wakil Bupati Sumba Barat Daya, Dominikus Alpawan Rangga Kaka, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi NTT atas kepedulian tersebut.
“Terima kasih kepada Bapak Gubernur yang tetap berupaya menghadirkan pelayanan kepada masyarakat meskipun kondisi anggaran masih terbatas. Bantuan listrik ini sangat bermanfaat bagi masyarakat dan semoga dapat meningkatkan kualitas hidup para penerima manfaat,” ujarnya.
Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) merupakan hasil sinergi antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Pemerintah Provinsi NTT, dan PLN dalam menyediakan sambungan listrik gratis bagi keluarga kurang mampu.
Program ini diperuntukkan bagi keluarga yang terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) Kementerian Sosial, dengan prioritas masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Selain sambungan listrik, setiap penerima manfaat memperoleh instalasi listrik rumah berupa tiga titik lampu dan satu kotak kontak, pemeriksaan serta pengujian instalasi, Sertifikat Laik Operasi (SLO), biaya penyambungan baru ke PLN, serta token listrik perdana secara gratis.
Bagi sebagian orang, menyalakan lampu mungkin merupakan hal biasa. Namun bagi Mama Anastasia dan ratusan keluarga lainnya, cahaya yang mulai menerangi rumah mereka malam ini adalah simbol bahwa negara benar-benar hadir, mendengar, dan menjawab kebutuhan warganya. Di balik nyala lampu itu, tersimpan harapan agar anak-anak dapat belajar dengan lebih baik, keluarga hidup lebih nyaman, dan masa depan menjadi sedikit lebih terang. (bld/adpim)







Tinggalkan Balasan