Nantinya, TPST Alak akan memproduksi bahan bakar padat alternatif yang karakteristiknya menyerupai woodchip atau biomassa. Produk inilah yang bakal digunakan sebagai campuran bahan bakar pada pembangkit listrik tenaga uap.

Merespons hal tersebut, Asisten Manager Operasi dan Pemeliharaan Pembangkit PT PLN (Persero) UPW NTT, Pandu Setyo Wibowo, menyatakan pihak PLN menyambut positif peluang ini. Terlebih, PLN saat ini sedang mengejar target peningkatan bauran energi alternatif dalam operasionalnya.

“Peluang kerja sama ini sangat terbuka lebar karena kebutuhan biomassa di PLTU Bolok masih sangat besar. Pada dasarnya, kami siap memanfaatkan hasil pengolahan TPST tersebut sepanjang spesifikasi teknisnya terpenuhi,” tutur Pandu.

Ia menambahkan, beberapa indikator teknis yang harus diperhatikan antara lain ukuran material, tingkat kadar air (moisture), serta nilai kalor yang wajib sinkron dengan standar operasional boiler pembangkit listrik.

Pertemuan tersebut juga mendiskusikan mekanisme penyusunan dokumen legalitas kerja sama. Surat pernyataan kesediaan PLN menjadi off-taker nantinya menjadi dokumen krusial untuk mencairkan bantuan pembangunan dari pemerintah pusat.