“Kami sangat merespons positif kegiatan ini. Kehadiran stan UMKM di Bulan Budaya benar-benar mendukung kerja usaha kami sebagai pemuda gereja. Ini bukan cuma soal mencari keuntungan, tapi melatih mental kewirausahaan kami dan membuktikan bahwa pemuda gereja bisa mandiri secara ekonomi lewat kolaborasi,” ujar Ade dengan semangat di sela-sela melayani pembeli.

Pemberdayaan Perempuan dan Kebangkitan Ekonomi Rumah Tangga

Selain kelompok pemuda, geliat ekonomi di malam penutupan ini juga digerakkan oleh kaum perempuan jemaat. Maya, salah satu pelaku UMKM perempuan yang ikut membuka lapak dagangan, turut merasakan berkah dari keramaian penutupan Bulan Budaya ini. Ia menjual berbagai penganan ringan, kopi lokal, serta kain tenun ikat motif daerah.

Baginya dan pelaku usaha perempuan lainnya, ajang ini menjadi angin segar untuk menambah pendapatan rumah tangga sekaligus mempromosikan produk lokal kepada jemaat dan tamu undangan yang hadir, termasuk Wali Kota Kupang dan Ketua Sinode GMIT.

“Sebagai perempuan dan ibu rumah tangga, ruang seperti ini sangat kami butuhkan. Biasanya kami hanya jualan dari rumah, tapi di sini produk kami bisa langsung dilihat banyak orang. Sangat membantu ekonomi keluarga,” ungkapnya.