KUPANG, KN – Perayaan Bulan Budaya GMIT Maranatha Oebufu tidak hanya menjadi panggung pelestarian tradisi dan refleksi iman, tetapi juga penggerak roda ekonomi jemaat. 

Selama gelaran berlangsung, halaman gereja disulap menjadi pasar rakyat yang menghidupkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal, membuktikan bahwa gereja mampu hadir sebagai ruang pemberdayaan ekonomi kreatif bagi warganya.

Pemuda Gereja Mengambil Peran: Kreativitas Kuliner Lokal

Di antara deretan stan yang memadati area festival, lapak milik pemuda jemaat Pedamai menjadi salah satu yang paling ramai dikunjungi. Dipimpin oleh Ade Kolimon bersama rekan-rekan pemudanya, mereka menjajakan aneka olahan pangan, mulai dari kesegaran es buah hingga panganan tradisional khas Nusa Tenggara Timur, Jagung Bose.

Ade mengungkapkan rasa syukur dan antusiasmenya yang besar terhadap inisiatif gereja dalam memfasilitasi ruang usaha ini. Menurutnya, acara seperti Bulan Budaya memberikan dampak konkret yang langsung dirasakan oleh generasi muda gereja.

“Kami sangat merespons positif kegiatan ini. Kehadiran stan UMKM di Bulan Budaya benar-benar mendukung kerja usaha kami sebagai pemuda gereja. Ini bukan cuma soal mencari keuntungan, tapi melatih mental kewirausahaan kami dan membuktikan bahwa pemuda gereja bisa mandiri secara ekonomi lewat kolaborasi,” ujar Ade dengan semangat di sela-sela melayani pembeli.

Pemberdayaan Perempuan dan Kebangkitan Ekonomi Rumah Tangga

Selain kelompok pemuda, geliat ekonomi di malam penutupan ini juga digerakkan oleh kaum perempuan jemaat. Maya, salah satu pelaku UMKM perempuan yang ikut membuka lapak dagangan, turut merasakan berkah dari keramaian penutupan Bulan Budaya ini. Ia menjual berbagai penganan ringan, kopi lokal, serta kain tenun ikat motif daerah.

Baginya dan pelaku usaha perempuan lainnya, ajang ini menjadi angin segar untuk menambah pendapatan rumah tangga sekaligus mempromosikan produk lokal kepada jemaat dan tamu undangan yang hadir, termasuk Wali Kota Kupang dan Ketua Sinode GMIT.

“Sebagai perempuan dan ibu rumah tangga, ruang seperti ini sangat kami butuhkan. Biasanya kami hanya jualan dari rumah, tapi di sini produk kami bisa langsung dilihat banyak orang. Sangat membantu ekonomi keluarga,” ungkapnya.

Gereja yang Memberdayakan

Kehadiran para pelaku UMKM ini sejalan dengan pesan yang disampaikan dalam perayaan tersebut, di mana gereja diharapkan tidak hanya bertumbuh secara kuantitas pelayanannya, tetapi juga membawa dampak sosial-ekonomi yang nyata bagi masyarakat sekitar.

Dengan memanfaatkan momentum budaya, GMIT Maranatha Oebufu telah berupaya menciptakan ekosistem di mana iman, budaya, dan kesejahteraan ekonomi jemaat dapat berjalan beriringan. (agn)