Kupang, KN — Genap satu tahun Emanuel Melkiades Laka Lena dan Johni Asadoma memimpin Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sejumlah capaian pembangunan telah ditorehkan, meski belum seluruh program prioritas yang tertuang dalam Dasa Cita dapat direalisasikan secara menyeluruh.

Memasuki tahun kedua kepemimpinan, Pemerintah Provinsi NTT menegaskan komitmen untuk terus berbenah dan mempercepat pelaksanaan agenda pembangunan.

Kolaborasi seluruh elemen masyarakat dinilai menjadi kunci dalam mewujudkan NTT yang lebih maju dan berdaya saing.

Hasil survei yang dirilis oleh Voxpol Center Research and Consulting, tingkat kepuasan publik terhadap satu tahun kinerja Melki–Johni mencapai 80,5 persen.

Angka tersebut menunjukkan mayoritas masyarakat NTT merasa puas terhadap kinerja pemerintah daerah di bawah kepemimpinan keduanya.

Gubernur Melki menyampaikan, capaian tersebut patut disyukuri, namun tidak boleh membuat pemerintah berpuas diri.

Hal itu disampaikannya dalam diskusi publik antara Pemerintah Provinsi NTT bersama Voxpol Center Research and Consulting, Jumat (20/02/2026).

“Itu hanyalah angka-angka, tapi fokus kita adalah terus berbenah. Satu tahun ini kita jadikan fondasi awal untuk tahun-tahun ke depan dalam membangun NTT ke arah yang lebih baik,” ujar Melki.

Menurutnya, tingginya tingkat kepuasan publik justru menjadi motivasi tambahan bagi pemerintah untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan pembangunan di berbagai sektor.

Ia menegaskan, target pemerintah adalah menjadikan NTT sebagai provinsi yang maju dan mampu bersaing dengan daerah lain di Indonesia.

Melki juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terlibat aktif dalam setiap proses pembangunan. Partisipasi publik, menurutnya, sangat penting agar kebijakan yang diambil benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

“Selain saya minta dukungan semua lapisan masyarakat, saya juga mau dikritik terkait kebijakan pembangunan. Ini penting supaya selalu terarah,” tegasnya.

Lebih lanjut, Melki meminta agar lembaga survei menyajikan data secara objektif dan apa adanya. Ia menekankan pentingnya data yang presisi sebagai bahan evaluasi pemerintah.

“Alasan saya pakai Voxpol karena presisi. Silakan disampaikan apa adanya. Jangan puja-puji. Ini harus jadi potret yang bisa dibuka dan dibedah untuk menjadi masukan bagi kami semua di pemerintah,” pungkasnya. (*)