Kupang, KN— Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Lake Lena, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memastikan tidak ada satu pun warga miskin yang luput dari perhatian dan bantuan negara.
Hal itu disampaikannya menyusul tragedi meninggalnya YBR yang dinilai menjadi pukulan keras sekaligus alarm kemanusiaan bagi seluruh pemangku kepentingan di NTT.
“Tidak boleh ada orang miskin yang tidak terjangkau. Kita semua harus bekerja dengan hati dan tulus,” tegas Gubernur Melki Laka Lena dalam rapat bersama lintas sektor, Jumat (7/2/2026).
Menurut Gubernur, tragedi YBR harus dijadikan momentum untuk melakukan pembenahan menyeluruh terhadap sistem penanganan kemiskinan di NTT agar peristiwa serupa tidak kembali terulang.
“Kematian anak kita YBR memukul kita semua sebagai pemimpin. Hari ini kita bertekad membenahi sistem agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” ujarnya.
Gubernur menyebutkan dua fokus utama yang menjadi perhatian pemerintah daerah ke depan, yakni evaluasi pendataan warga miskin agar benar-benar akurat dan tidak dimanipulasi, serta memastikan ketepatan sasaran seluruh program bantuan bagi masyarakat miskin.
Ia menegaskan bahwa upaya tersebut membutuhkan kerja bersama seluruh unsur, mulai dari pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh agama, hingga lembaga pendidikan, agar data kemiskinan benar-benar mencerminkan kondisi riil di lapangan.
Dalam rapat tersebut, Gubernur juga memaparkan sejumlah langkah konkret yang akan segera dilakukan, antara lain perbaikan dan pembaruan data warga miskin yang dipimpin oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) bersama lintas sektor, penegakan hukum terhadap manipulasi data kemiskinan, serta pemeriksaan ulang data peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) bidang kesehatan agar bantuan tepat sasaran.
Selain itu, pemerintah daerah akan memperkuat peran pranata sosial dan keagamaan, membentuk skema gerakan “Sapa Peduli Bantu” untuk menghidupkan kembali modal sosial masyarakat NTT, mengaktifkan layanan konseling di sekolah-sekolah, serta menjalin kolaborasi dengan sektor swasta dan tokoh masyarakat dalam penyediaan dana sosial tanggap darurat di luar bantuan pemerintah.
“Kita mengakui bahwa kita salah, dan karena itu kita bertekad memperbaiki diri ke depan. Mari jadikan tragedi ini sebagai alarm kemanusiaan agar tidak ada lagi anak di NTT yang putus asa karena kemiskinan,” tutup Gubernur.
Sementara itu, Staf Khusus Menteri Dalam Negeri, Hoiruddin Hasibuan, mengatakan kehadirannya di NTT merupakan penugasan khusus dari Menteri Dalam Negeri untuk mendalami kasus YBR serta menyiapkan rekomendasi bagi pemerintah pusat.
“Ini bukan soal siapa yang salah, tetapi bagaimana ke depan kita memperbaiki sistem. Kasus di Ngada adalah tamparan bagi kita semua untuk berbenah,” kata Hasibuan.
Ia menekankan pentingnya pendataan warga miskin secara rinci by name by address, fleksibilitas pendanaan bantuan sosial, serta kesiapan pemerintah daerah dalam menghadapi kondisi darurat sosial.
Hasibuan juga menyampaikan belasungkawa dari Menteri Dalam Negeri dan menegaskan bahwa tragedi tersebut berkaitan erat dengan persoalan kemiskinan ekstrem.
Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, turut menegaskan peran penting aparat di tingkat bawah dalam memastikan program penanggulangan kemiskinan tepat sasaran.
“Bantuan sudah banyak, tetapi pertanyaannya apakah benar-benar sampai kepada yang berhak. RT, RW, dan para kepala desa harus peduli, proaktif, dan bekerja dengan sungguh-sungguh,” tegasnya. (oan/ab)

