Ruteng, KN – Polres Manggarai melaksanakan Apel Gelar Pasukan dalam rangka Kesiapan penanggulangan Bencana Alam, dan pengendalian Karhutlah, pada Senin 22 Maret 2021.

Kapolres Manggarai, AKBP Mas Anton Widyodigdo, S.H, S.I.K, dalam kesempatan tersebut, membacakan sambutan dari Kapolda NTT terkait dengan pelaksanaan Operasi.

Menurutnya, apel kesiapsiagaan yang dilaksanakan, merupakan tahapan penting yang harus dilaksanakan dalam suatu proses  manajerial.

Hal itu untuk memastikan bahwa TNI-POLRI dan Pemda serta seluruh instansi terkait dan segenap potensi masyarakat, benar-benar siap baik dari segi kekuatan personel, kemampuan, maupun kelengkapan sarana prasarana yang akan digunakan sebelum diturunkan ke lapangan.

Dia menyampaikan, kondisi geografis dan geologis Indonesia telah menyebabkan terjadinya bencana alam di berbagai wilayah, baik berupa bencana banjir, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, dan letusan gunung berapi.

Dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam tersebut selain menyebabkan kerugian jiwa dan materiil, juga dapat merusak tatanan ekosistem, anjloknya ketahanan ekonomi, menurunnya tingkat kesehatan dan lumpuhnya seluruh aktivitas masyarakat.

“Wilayah NTT yang mempunyai cuaca yang ekstrim dengan musim kemarau lebih lama dibandingkan musim hujan, dapat menyebabkan kekeringan di beberapa tempat,” ujar Kapolres AKBP Mas Anton Widyodigdo, S.H, S.I.K.

Musim kemarau yang panjang juga dapat menimbulkan titik panas yang berpotensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan, selain disebabkan oleh faktor manusia. Kebakaran hutan dan lahan akan berdampak buruk bagi perekonomian masyarakat NTT dan memicu perlambatan ekonomi daerah.

Kebakaran hutan dan lahan merupakan persoalan serius yang selalu berulang setiap tahunnya dimana Provinsi NTT memiliki kawasan hutan seluas 1.784.751 ha atau 37,69 %. 

“Pemerintah menempatkan penanggulangan karhutla sebagai prioritas utama untuk segera di antisipasi dan ditanggulangi,” ucapnya.

Walaupun di Provinsi NTT jumlah titik api tidak sebanyak di wilayah Kalimantan dan Sumatera, namun sesuai dengan pantauan BMKG NTT, jumlah titik api mengalami peningkatan signifikan, dan titik api yang tersebar di pulau timor, flores dan sumba yang berpotensi terjadi kebakaran hutan dan lahan.