Ende, KN – Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menyampaikan kritik keras kepada Kepala Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II terkait pembangunan Waduk Lambo di Nagekeo.

Ketua AMAN Wilayah Nusa Bunga, Philipus Kami, mengatakan, berkaitan dengan pembangunan waduk Lambo, masyarakat adat Rendu, Ndora dan Lambo sesungguhnya tidak menolak pembangunannya.

Namun masyarakat adat menolak lokasi pembangunannya dengan memberikan solusi lokasi alternatif dari Lowo Se ke Malawaka dan Lowo Pebhu yang juga masih dalam wilayah adatnya.

Alasan masyarakat meminta lokasinya dipindahkan, karena di lokasi Lowo Se terdapat pemukiman warga, berbagai intentitas budaya, padang perburuan adat, kuburan Leluhur, sarana publik, dan lahan–lahan pontesial masyarakat adat, dan juga padang ternak.

Menurut Philipus, jika dari awal proses rencana pembangunan waduk Lambo, masyarakat adat pemilik lahan tidak dilibatkan secara penuh dan tidak ada transparansi antara pihak pemerintah dengan masyarakat adat, sehingga terjadi perlawanan dari masyarakat adat.