“Mereka bukan saja kehilangan rumah, tetapi saudara-saudara kita sebagai petani ada juga irigasi yang rusak. Mereka tidak bisa kembali ke sawah. Hari ini mereka kehilangan sumber mata pencaharian,” ungkapnya.
HKTI NTT, lanjut Fernando, akan turun ke wilayah terdampak untuk mengadvokasi kebutuhan petani dan menyampaikannya kepada pemerintah.
“Kami juga akan hadir ke situ membantu mengadvokasi dan ikut menyuarakan kepada pemerintah sehingga bantuan-bantuan kepada masyarakat petani kita bisa segera mereka dapatkan,” jelasnya.
Selain persoalan pertanian, HKTI NTT juga siap membantu masyarakat yang menghadapi persoalan lahan dalam kawasan hutan.
Fernando mengatakan pihaknya akan mempelajari persoalan tersebut dan melihat kondisi di lapangan sebelum mengambil langkah advokasi.
“Kita akan ikut pelajari, kita akan melihat dan tentu kita akan membantu masyarakat kita. Bila perlu kita hadir mengadvokasi supaya hak-hak yang harus didapatkan masyarakat, hak-hak yang menjadi milik rakyat harus kembali kepada tangan rakyat,” tegasnya.
Fernando juga menyatakan HKTI NTT siap mengawal program swasembada pangan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto agar manfaatnya dapat dirasakan petani di NTT.
Menurutnya, program swasembada pangan, Makan Bergizi Gratis (MBG), dan Koperasi Desa Merah Putih dapat membuka peluang pasar bagi hasil pertanian masyarakat.
“Petani kita tidak perlu susah-susah mencari jaringan penjualan. Negara langsung hadir di tengah-tengah mereka untuk mengambil hasil pertanian,” tandasnya. (*)









Tinggalkan Balasan