Sirli Mardianna Trishinta, (Dosen dan Perawat Jiwa, Universitas Tribhuwana Tunggadewi)
17 Agustus 2026. Hari ini, seantero negeri mengibarkan Sang Saka Merah Putih. Suara lagu kebangsaan dan sorak sorai lomba-lomba bergema merayakan 81 tahun Indonesia Merdeka. Namun di ufuk timur, tepatnya di Nusa Tenggara Timur (NTT), gema kemerdekaan itu terdengar sayup dan tenggelam oleh suara isak tangis di balik tenda-tenda darurat pascagempa.
Tragedi gempa bumi yang mengguncang sebagian wilayah timur Indonesia bukan sekadar bencana alam, melainkan sebuah kaca pembesar yang menelanjangi rapuhnya sistem kesehatan negara kepulauan kita. Di usia republik yang melewati delapan dekade, gempa ini memaksa masyarakat bersama-sama menelan pil pahit yaitu akses kesehatan masih menjadi kemewahan yang tak terbeli masyarakat kepulauan.
Sistem kesehatan nasional kita selama ini dirancang dengan kacamata daratan perkotaan. Sehingga saat gempa mengguncang gugusan pulau di NTT, infrastruktur kesehatan yang sejak awal sudah kurang memadai, menjadi lumpuh seketika. Fasilitas kesehatan hancur dan rantai pasokan logistik medis terputus akibat ombak serta rusaknya dermaga. Indonesia, sang negara megah yang kaya dengan pulau, justru lautnya menjadi tembok pemisah antara nyawa dan pertolongan.
Di tengah tenda yang berdiri di sekitar puing-puing reruntuhan dan lambatnya respons bencana yang sistemik, ada sebuah realitas paradoksal, yaitu ketangguhan masyarakat NTT itu sendiri. Mereka bahu membahu dengan tangan dan kaki mereka yang bercampur dengan tanah kelahiran mereka sendiri, mengevakuasi sesamanya dengan tandu, dengan bambu dan kayu, bahkan merawat luka dengan kondisi seadanya. Pertanyaannya, apakah ini bentuk ketangguhan yang patut kita glorifikasi di momen kemerdekaan ini?
Tidak. Kita harus berhenti meromantisasi ketangguhan korban bencana dan bagaimana kekuatan warga kepulauan bertahan dalam kondisi yang termarjinalkan. Masyarakat kepulauan kita hari ini menjadi “merdeka” dalam artian yang paling ironis, yaitu berdaya juang mandiri karena absensi dari negaranya sendiri. Mereka tangguh karena fasilitas tidak cepat menjangkau saat maut mengintai mereka. Kemandirian ini bukanlah sebuah prestasi, melainkan bentuk dari pengabaian yang sistemik. Menunggu bantuan kesehatan yang memadai, seringkali adalah sebuah perlombaan melawan waktu yang berakhir dengan kekalahan.
Lebih jauh dari itu, lapisan tragedi lain kerap luput dari radar tanggap darurat, hal ini adalah hancurnya resiliensi psikologis masyarakat. Fokus tanggap darurat sering kali sudah terlalu habis energi untuk menangani luka dan patah tulang yang dialami, kemudian mengabaikan trauma psikologis dan sosial yang mendalam akibat kehilangan rumah, keluarga, dan rasa aman secara tiba-tiba. Warga dipaksa terus “kuat”, menelan luka batin mereka di bawah bayang-bayang ketidakpastian.
Di usia 81 tahun Indonesia ini, merombak paradigma nasional adalah sebuah urgensi seperti tanggap darurat bencana itu sendiri. Kita tidak lagi hanya bisa sekadar menambal-sulam masalah kesehatan sistemik di daerah kepulauan. Dibutuhkan penyiapan 3 sektor utama yang saya sebut sebagai Trisula Tanggap Darurat Kesehatan. Tombak bermata tiga ini adalah senjata utama yang digunakan secara bersamaan, tajam secara klinis, tajam secara sosiokultural, dan tajam dalam kolaborasi sistemik untuk menembus masalah krisis kesehatan di daerah kepulauan.
Pertama, tombak desentralisasi layanan klinis. Alih-alih bergantung pada pusat, setiap gugus pulau di NTT harus memiliki kemandirian logistik darurat. Secara klinis, tenaga kesehatan di daerah kepulauan juga dibekali kemampuan pertolongan pertama medis dan pertolongan pertama psikologis yang terintegrasi. Penanganan fisik dan kesehatan jiwa tidak boleh terpisah dalam situasi krisis darurat.
Kedua, pendekatan psikososial dan kultural. Intervensi kesehatan pascabencana tidak bisa datang sebagai pahlawan dari pusat yang tidak paham budaya setempat. Solusi penanganan trauma harus mengakar pada pendekatan kearifan lokal. Pemulihan jiwa masyarakat NTT pasca-gempa harus melibatkan struktur sosial di daerah tersebut. Kita perlu memberdayakan masyarakat secara sistematis sehingga mereka mampu memulihkan trauma secara terstruktur, bukan dibiarkan “mandiri” namun ditelantarkan.
Ketiga, kolaborasi sistemik dan pendidikan. Sistem kesehatan kepulauan membutuhkan sinergi lintas institusi yang konkret dari dunia pendidikan dan fasilitas layanan kesehatan. Kemitraan strategis dengan jaringan sistem layanan kesehatan baik dari puskesmas maupun rumah sakit daerah harus diperkuat menjadi basis penanganan darurat yang mandiri di tiap wilayah. Kurikulum pendidikan keperawatan pun perlu menyiapkan lulusan yang siap diterjunkan ke medan krisis kepulauan, bukan hanya mahir di bangsal rumah sakit perkotaan. Lulusan ini tidak hanya disiapkan untuk perlombaan menjadi tenaga kesehatan yang memenuhi kebutuhan masyarakat global yang lebih modern, namun mampu mendayagunakan dirinya dalam meningkatkan kesehatan pada masyarakatnya sendiri.
Jika tombak trisula ini diterapkan, dampaknya akan menjadi transformasi kesehatan di daerah kepulauan. Sistem kesehatan NTT yang lebih berdaya akan mampu memotong birokrasi penanganan medis yang berbelit hanya untuk mendapatkan layanan kesehatan. Hal ini juga akan mencegah trauma yang menjadi beban mental antargenerasi dan masyarakat berhenti menjadi pahlawan yang menderita dalam senyap.
Lagu Indonesia Tanah Air Beta kerap kali dinyanyikan dalam momen kemerdekaan Indonesia, yang membuai kita dengan eloknya Nusantara sebagai tempat berlindung. Namun, gempa NTT menyadarkan bahwa bagi masyarakat kepulauan, laut menjadi penghalang dan tanah tempat berlindung meruntuhkan fasilitas medis yang diharapkan menyelamatkan nyawanya. Kemerdekaan sejati di negara kepulauan bukanlah sekadar romantisasi keindahan alam, melainkan jaminan mutlak atas jiwa dan raga rakyatnya. Hanya ketika rakyat tidak lagi bertaruh nyawa demi akses medis dasar, dan Ibu Pertiwi benar-benar melindungi mereka di kala krisis, barulah lirik agung tersebut menjadi nyata, dan kita pantas merayakan 81 tahun Indonesia Merdeka dengan Sejahtera. ***









Tinggalkan Balasan