Pada kesempatan yang sama, Ketua Badan Penyelenggara Harian (BPH) Pengurus Besar (PB) PGRI NTT, Dr. Semuel Haning, SH., MH., memberikan apresiasi kepada seluruh mahasiswa yang telah menyelesaikan Kukerta. Namun, ia juga menegaskan bahwa lingkungan akademik UPG 1945 NTT harus bebas dari segala bentuk intimidasi maupun kekerasan terhadap mahasiswa.

“Saya tidak mau ada kejadian seperti yang pernah terjadi di kampus lain. Anak-anak mahasiswa tidak boleh mendapatkan tekanan fisik maupun tekanan mental dari dosennya,” tegas Semuel Haning.

Di hadapan ratusan mahasiswa dan dosen, ia bahkan menanyakan secara langsung apakah ada mahasiswa yang mengalami tekanan fisik maupun mental selama pelaksanaan Kukerta.

“Apakah ada dosen yang melakukan tekanan fisik atau tekanan mental kepada mahasiswa?” tanyanya. Seluruh mahasiswa serempak menjawab, “Tidak.”
Mendengar jawaban tersebut, Semuel Haning mengaku bersyukur karena suasana akademik di UPG 1945 NTT tetap kondusif. Meski demikian, ia menegaskan pihak kampus tidak akan mentolerir tindakan intimidasi apabila ditemukan di kemudian hari.

“Kalau ada dosen yang melakukan tindakan seperti itu dan dilaporkan, pembimbingnya akan kami ganti. Kami tidak akan mentolerir perlakuan yang merugikan mahasiswa,” ujarnya.

Ia mengingatkan seluruh dosen pembimbing agar selalu mengedepankan pendekatan edukatif dalam membina mahasiswa.

Menurutnya, tugas dosen adalah membimbing, mendidik, dan membentuk karakter mahasiswa, bukan memberikan tekanan ataupun mempermalukan mereka.

“Mahasiswa adalah anak-anak kita. Tugas kita membina mereka menjadi pribadi yang lebih baik, bukan memberi tekanan. Mari kita bersama-sama menjaga nama baik kampus ini,” pungkasnya. (*)