Kupang, KN – Sebanyak 471 mahasiswa Universitas PGRI (UPG) 1945 NTT resmi mengakhiri program Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Tahun 2026 setelah menjalani pengabdian masyarakat selama satu bulan di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang. Penarikan mahasiswa berlangsung di Kampus UPG 1945 NTT, Rabu (5/8/2026).

Ketua Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) UPG 1945 NTT, Delorens Bessie, menjelaskan para mahasiswa diberangkatkan pada 2 Juni 2026 dan menyelesaikan masa Kukerta pada 31 Juli 2026.

Sebanyak 471 mahasiswa dibagi dalam 64 kelompok, terdiri atas 153 mahasiswa dalam 17 kelompok di Kabupaten Kupang, 234 mahasiswa dalam 39 kelompok di Kota Kupang, serta delapan kelompok di lingkungan kampus. Seluruh peserta didampingi oleh 37 dosen pembimbing lapangan (DPL).

Menurut Delorens, setiap kelompok diwajibkan melaksanakan program utama di bidang ekonomi serta program mandiri yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di lokasi pengabdian.

Selama Kukerta, mahasiswa terlibat dalam berbagai kegiatan, seperti membantu penataan administrasi desa, membersihkan lingkungan, membangun fasilitas sederhana, edukasi pengelolaan sampah, penyediaan tempat sampah, hingga pembaruan data desa dan kelurahan.

Selain itu, mahasiswa juga melaksanakan program pemberdayaan masyarakat, di antaranya pelatihan pembuatan pupuk organik berbahan lokal, edukasi pertanian organik berkelanjutan, pelatihan pengolahan produk lokal bernilai ekonomi, sosialisasi gerakan jam belajar masyarakat, pencegahan perundungan (bullying), bimbingan belajar, peningkatan literasi, hingga berbagai permainan edukatif bagi anak-anak.

Delorens mengapresiasi dedikasi para dosen pembimbing lapangan serta seluruh pihak yang telah menyukseskan pelaksanaan Kukerta. Ia mengingatkan bahwa meski kegiatan lapangan telah selesai, dosen pembimbing dan mahasiswa masih harus menyelesaikan laporan akhir dalam waktu satu minggu sebagai bagian dari proses penilaian.

“Pengabdian yang telah dilakukan merupakan bentuk kecintaan mahasiswa kepada almamater, masyarakat, Kota Kupang, dan Kabupaten Kupang. Kami berharap pengalaman ini menjadi bekal berharga dalam membangun masyarakat di masa depan,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Badan Penyelenggara Harian (BPH) Pengurus Besar (PB) PGRI NTT, Dr. Semuel Haning, SH., MH., memberikan apresiasi kepada seluruh mahasiswa yang telah menyelesaikan Kukerta. Namun, ia juga menegaskan bahwa lingkungan akademik UPG 1945 NTT harus bebas dari segala bentuk intimidasi maupun kekerasan terhadap mahasiswa.

“Saya tidak mau ada kejadian seperti yang pernah terjadi di kampus lain. Anak-anak mahasiswa tidak boleh mendapatkan tekanan fisik maupun tekanan mental dari dosennya,” tegas Semuel Haning.

Di hadapan ratusan mahasiswa dan dosen, ia bahkan menanyakan secara langsung apakah ada mahasiswa yang mengalami tekanan fisik maupun mental selama pelaksanaan Kukerta.

“Apakah ada dosen yang melakukan tekanan fisik atau tekanan mental kepada mahasiswa?” tanyanya. Seluruh mahasiswa serempak menjawab, “Tidak.”
Mendengar jawaban tersebut, Semuel Haning mengaku bersyukur karena suasana akademik di UPG 1945 NTT tetap kondusif. Meski demikian, ia menegaskan pihak kampus tidak akan mentolerir tindakan intimidasi apabila ditemukan di kemudian hari.

“Kalau ada dosen yang melakukan tindakan seperti itu dan dilaporkan, pembimbingnya akan kami ganti. Kami tidak akan mentolerir perlakuan yang merugikan mahasiswa,” ujarnya.

Ia mengingatkan seluruh dosen pembimbing agar selalu mengedepankan pendekatan edukatif dalam membina mahasiswa.

Menurutnya, tugas dosen adalah membimbing, mendidik, dan membentuk karakter mahasiswa, bukan memberikan tekanan ataupun mempermalukan mereka.

“Mahasiswa adalah anak-anak kita. Tugas kita membina mereka menjadi pribadi yang lebih baik, bukan memberi tekanan. Mari kita bersama-sama menjaga nama baik kampus ini,” pungkasnya. (*)