Gagasan awal untuk melahirkan Saboak mencuat dari ruang diskusi antara Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kupang. 

Target utamanya adalah menyuntikkan “nyawa” baru ke dalam Taman Nostalgia agar arealnya tidak sekadar berfungsi sebagai ruang terbuka hijau yang pasif, melainkan menjelma sebagai ruang perjumpaan sosial yang produktif.

Tantangan besar sempat menghadang di awal masa kepemimpinan mereka yang baru berjalan sejak dilantik pada Februari 2025 lalu. 

Saat itu, struktur anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) telah ditetapkan, sehingga ruang fiskal untuk mengesekusi program inovasi baru terbilang sangat sempit. 

Namun, keterbatasan tersebut disiasati dengan kebijakan efisiensi anggaran internal yang ketat.

“Kami melakukan efisiensi. Saya dan Ibu Wakil tidak membeli mobil dinas baru dan memanfaatkan anggaran yang ada untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak, seperti Bank Mandiri, Taspen dan para sponsor lainnya. Dari kolaborasi itulah Saboak bisa lahir,” ungkap Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo.