Rasa gugup bercampur bangga berkecamuk, terutama saat melihat riuhnya sorakan penonton yang terdokumentasikan dalam rangkaian visual kemeriahan acara.
Namun, disiplin dan filosofi kempo yang mengajarkan keseimbangan fisik dan mental membantu para kenshi cilik ini untuk tetap fokus hingga peluit akhir ditiupkan panitia.
“Awalnya saya lumayan grogi karena saya tanding di GOR yang besar dan ditonton banyak orang. Tapi pas sudah di atas matras dengan seragam dogi, saya ingat pesan pelatih untuk fokus pada gerakan dan teknik kami. Begitu berhasil menyelesaikan gerakan tanpa salah dan dengar sorakan penonton, rasanya lega sekali,” ungkap Dafa dengan mata berbinar seusai turun dari matras pertandingan.
Ketegangan yang sama, bahkan mungkin lebih besar, justru dirasakan oleh barisan orang tua yang duduk memenuhi tribun penonton.
Sejak pagi hari, mereka telah mendampingi anak-anak mereka bersiap, membantu memakaikan seragam kebesaran dogi putih, hingga memberikan suntikan semangat di pinggir lapangan.







Tinggalkan Balasan