KUPANG, KN – Di balik kemegahan seremonial pelantikan Pengurus Kota Perkemi Kupang masa bakti 2026–2030, atmosfer di dalam Gedung Olahraga (GOR) Flobamora Oepoi Kupang justru dipenuhi riuh emosi para kenshi muda dan orang tua yang mendampingi mereka berlaga di Kejuaraan Shorinji Kempo Antar Dojo Perebutan Piala Wali Kota Kupang 2026, Minggu (21/6) siang.
Bagi ratusan atlet kategori pelajar dan mahasiswa yang datang dari berbagai penjuru Nusa Tenggara Timur (NTT), kejuaraan ini bukan sekadar ajang berburu medali, melainkan panggung pembuktian atas latihan keras yang telah mereka jalani berbulan-bulan di dojo masing-masing.
Kehadiran jajaran pejabat tinggi Forkopimda dan prosesi pelantikan pengurus baru yang dipimpin langsung oleh Pengprov Perkemi NTT kian menambah sakral sekaligus menegangkan jalannya hari terakhir kompetisi.
Salah seorang kenshi muda kategori pelajar yang tampil dalam nomor embu (peragaan teknik), Dafa, mengaku sempat gemetar saat harus memperagakan teknik-teknik tinggi di tengah matras, disaksikan langsung oleh ratusan pasang mata yang memadati tribun GOR Flobamora.
Rasa gugup bercampur bangga berkecamuk, terutama saat melihat riuhnya sorakan penonton yang terdokumentasikan dalam rangkaian visual kemeriahan acara.
Namun, disiplin dan filosofi kempo yang mengajarkan keseimbangan fisik dan mental membantu para kenshi cilik ini untuk tetap fokus hingga peluit akhir ditiupkan panitia.
“Awalnya saya lumayan grogi karena saya tanding di GOR yang besar dan ditonton banyak orang. Tapi pas sudah di atas matras dengan seragam dogi, saya ingat pesan pelatih untuk fokus pada gerakan dan teknik kami. Begitu berhasil menyelesaikan gerakan tanpa salah dan dengar sorakan penonton, rasanya lega sekali,” ungkap Dafa dengan mata berbinar seusai turun dari matras pertandingan.
Ketegangan yang sama, bahkan mungkin lebih besar, justru dirasakan oleh barisan orang tua yang duduk memenuhi tribun penonton.
Sejak pagi hari, mereka telah mendampingi anak-anak mereka bersiap, membantu memakaikan seragam kebesaran dogi putih, hingga memberikan suntikan semangat di pinggir lapangan.
Bagi para orang tua, melihat anak-anak mereka berani melangkah ke atas matras dan menjunjung tinggi nilai sportivitas sudah merupakan sebuah kemenangan tersendiri.
Dukungan emosional dari keluarga ini pun mendapat apresiasi mendalam dari pihak pemerintah daerah.
Dalam sambutan resminya, Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, secara khusus menggarisbawahi betapa pentingnya peran orang tua dalam mendukung anak-anak mereka menekuni olahraga bela diri asal Jepang ini.
Pemerintah menilai sinergi antara motivasi keluarga dan pembinaan organisasi yang sehat menjadi fondasi utama dalam melahirkan generasi emas kenshi NTT di masa depan.
“Sebagai orang tua, jantung saya rasanya berdebar lebih kencang daripada anak saya saat dia maju ke tengah lapangan. Kami tahu persis bagaimana perjuangan mereka latihan fisik setiap sore sampai malam. Juara atau tidak itu urusan belakangan, yang terpenting kami bangga melihat mental mereka dibentuk menjadi pribadi yang disiplin dan berani melalui kempo ini,” tutur Maria, salah satu orang tua atlet yang setia memberikan dukungan dari tribun penonton.
Bagi para peserta dan orang tua, pergantian kepengurusan ke tangan Jefri Edward Pelt, S.H. membawa harapan baru yang segar.
Mereka berharap di bawah nakhoda baru ini, kompetisi-kompetisi kelompok umur dapat diselenggarakan secara lebih rutin di Kota Kupang.
Dengan frekuensi bertanding yang terjaga, impian para kenshi muda seperti Dafa untuk dapat melangkah lebih jauh menuju Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) hingga menembus jajaran elite atlet nasional pada PON XXII tahun 2028 mendatang bukan lagi sekadar angan-angan. (agn)







Tinggalkan Balasan