Masalah air berkaitan erat dengan indikator kualitas hidup, tingkat kesehatan keluarga, produktivitas ekonomi, hingga masa depan pembangunan daerah.
Ia menggarisbawahi bahwa pertumbuhan penduduk yang pesat dan dampak perubahan iklim global kian menekan ketersediaan air baku di Kota Kupang.
Oleh karena itu, Pemkot Kupang mendorong perubahan paradigma dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat agar tidak hanya menjadi penonton, melainkan motor penggerak dari solusi krisis air.
Salah satu implementasi nyata dari komitmen ini adalah pengukuhan Forum Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu Kota Kupang pada tahun 2026 sebagai wadah kolaborasi lintas sektor.
“Persoalan air harus menjadi gerakan bersama. Ketika sumber air rusak, semua merasakan dampaknya. Ketika kualitas air menurun, semua ikut menanggung risikonya. Sebaliknya, ketika akses air membaik, seluruh masyarakat akan menikmati manfaatnya. Kita ingin masyarakat menjadi bagian dari solusi dalam setiap proses perencanaan, pengawasan, hingga pengambilan keputusan,” tegas Ignasius dalam pidato pembukaannya.







Tinggalkan Balasan