Kupang, KN – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur menerima bantuan 3.000 dosis semen beku sapi dari Kementerian Pertanian RI. Bantuan itu disalurkan untuk mendongkrak populasi dan mutu genetik ternak sapi di NTT.

Semen beku itu diserahkan secara simbolis oleh Direktur Pembibitan dan Produksi Ternak Kementan, Dr. Ir. Hary Suhada, kepada Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena.

Penyerahan berlangsung saat Kunjungan Kerja Komite II DPD RI di Kantor DPD RI Provinsi NTT, Jumat, (12/6/2026).

Wakil Ketua Komite II DPD RI Angelo Wake Kako dan Wakil Wali Kota Kupang Serena Francis turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Semen beku sapi adalah sperma dari pejantan unggul yang dipakai untuk program inseminasi buatan. Metode ini dipakai untuk mempercepat peningkatan mutu genetik ternak. Metode ini akan menghasilkan anakan berkualitas tinggi seperti sapi Limousin, Simmental, atau Wagyu.

Gubernur NTT, Melki Laka Lena mengapresiasi bantuan tersebut. Menurutnya, inseminasi buatan jadi langkah strategis untuk naikkan produktivitas peternakan.

“Kami menyampaikan selamat datang dan terima kasih atas kunjungan kerja Komite II DPD RI dalam rangka mencari solusi atas berbagai persoalan daerah terkait peternakan dan kesehatan hewan di NTT. Bantuan 3.000 dosis semen beku dari berbagai jenis sapi unggul ini tentu akan sangat membantu pengembangan sektor peternakan di daerah,” ujar Melki.

Gubernur menyebut program ini diharapkan melahirkan sapi-sapi unggul berkualitas baik. Tujuannya agar daya saing sektor peternakan NTT meningkat ke depan.

“Melalui inseminasi buatan ini kita berharap dapat menghasilkan sapi-sapi unggul dengan kualitas yang baik sehingga mampu meningkatkan daya saing sektor peternakan NTT di masa mendatang,” katanya.

Lebih jauh, Melki berharap keberhasilan pengembangan sapi unggul di NTT bisa jadi model untuk komoditas lain seperti babi, kambing, kerbau, dan unggas.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah, akademisi, dan peternak. Politeknik Pertanian dan Universitas Nusa Cendana disebut ikut berkontribusi lewat pendidikan, penelitian, dan pendampingan.

“Kami bersyukur karena selama ini ada dukungan dari berbagai lembaga pendidikan, termasuk Politeknik Pertanian dan Hewan Universitas Nusa Cendana. Dengan kerja sama yang baik antara pemerintah, akademisi, dan para pelaku usaha peternakan, kami optimistis cita-cita menjadikan NTT sebagai pusat pengembangan ternak dapat terus diwujudkan,” ungkapnya. (mld/ab)