Namun, ia tidak menampik adanya catatan sejarah yang kelam, di mana pada masa lalu kehadiran Injil sering kali dicurigai, mengesampingkan, bahkan membuang budaya lokal karena kepentingan dagang dan ekonomi kolonial Belanda. Baru pada tahun 1947, saat GMIT mandiri, gereja mulai berani mencari bentuknya sendiri, lepas dari bayang-bayang pengaruh gereja Belanda maupun Swiss (Calvinis).

Pdt. Samuel menegaskan bahwa perayaan Bulan Budaya ini menjadi momen penting bagi gereja untuk menyadari kontribusi besar nilai-nilai budaya dalam memperkuat persekutuan. Ia berpesan agar perbedaan budaya dan ras tidak dibesar-besarkan, melainkan dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh. 

Ia juga mencontohkan bagaimana keterbukaan jemaat GMIT dalam menerima keragaman kini telah membuat GMIT bertumbuh pesat menjadi “GMIT Nusantara”, yang jemaatnya tersebar hingga ke Surabaya, Batam, Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, bahkan di Sarawak, Malaysia dan Brunei.

Pancasila Nyata dalam Kehidupan Berjemaat dan Bermasyarakat