Kupang, KN – Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menegaskan bahwa literasi merupakan fondasi utama dalam membangun kekuatan sebuah kota yang berkelanjutan.

Hal ini disampaikannya dalam acara Pengukuhan Bunda Literasi Kota Kupang dan Kampanye Gerakan Gemar Membaca melalui Lomba Bercerita oleh Anak PAUD Kota Kupang yang berlangsung di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang, Rabu (22/4/2026).

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua TP PKK Kota Kupang, dr. Widya Cahya, Ketua Himpaudi Kota Kupang, Jefri Libertus, Ketua IGTKI, Mandasia Syamsudin, Staf Ahli TP PKK Kota Kupang, Angela Lusi Deran, Ketua Dharma Wanita Persatuan, Elisa Pelt – Lumbang Tobing, para dewan juri, serta 42 anak peserta lomba bercerita.

Dalam kesempatan tersebut, Bunda Literasi Kota Kupang yang baru, dr. Widya Cahya, resmi dikukuhkan. Wali Kota menyampaikan ucapan selamat seraya berharap amanah yang diberikan dapat dijalankan dengan penuh integritas dan tanggung jawab.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Bunda PAUD dan Bunda Literasi sebelumnya atas dedikasi dan pengabdian yang telah diberikan.

“Hari ini bagi saya bukan sekadar seremoni, tetapi tentang harapan. Harapan bahwa sebuah kota menjadi kuat bukan hanya karena infrastruktur dan visi, tetapi karena ilmu pengetahuan, karakter, dan peran Bunda Literasi,” ujar Wali Kota.

Ia menekankan pentingnya membangun budaya literasi sejak dini, dimulai dari lingkungan keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat. Menurutnya, anak-anak belajar dari teladan yang mereka lihat di rumah, sehingga peran orang tua sangat krusial dalam menumbuhkan minat baca.

Wali Kota juga mengutip pesan inspiratif dari aktivis pendidikan penerima Nobel Perdamaian, Malala Yousafzai, yang menyatakan bahwa “satu anak, satu guru, satu buku, dan satu pena dapat mengubah dunia.” Kutipan tersebut, menurutnya, mengandung makna mendalam bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil dalam pendidikan.

Lebih lanjut, ia mengajak para orang tua untuk membiasakan anak-anak membaca secara bertahap dan tanpa paksaan. “Tidak harus satu hari satu buku. Satu halaman, satu paragraf, bahkan satu kalimat pun cukup, yang penting konsisten. Jangan sampai anak merasa membaca itu beban, tetapi jadikan sebagai kebiasaan yang menyenangkan,” jelasnya.