Kupang, KN — Suasana Taman Nostalgia, Kota Kupang tampak semarak, pada Minggu 2 November 2025 malam. Ratusan pengunjung dari berbagai kalangan, antusias menghadiri Festival Sepe 2025, ajang tahunan yang kini menjadi ikon kebanggaan Kota Kupang.
Festival 2025 berhasil menggugah semangat generasi muda, untuk mencintai dan melestarikan motif tenun khas Kota Kupang, yakni Sepe.
Hal inilah yang selalu digaungkan oleh Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo dan Serena Cosgrova Francis. Lewat visi dan misinya, kedua sosok pemimpin muda ini, ingin mengenalkan, serta merawat budaya masyarakat Kota Kupang, lewat berbagai kegiatan seni, salah satunya Festival Sepe 2025.

Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jefri Eduard Pelt, saat menutup kegiatan Festival Sepe 2025 menyampaikan apresiasinya, atas pelaksanaan festival yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Ia menyebut, Festival Sepe telah menjadi wadah regenerasi, bagi para penenun muda, sekaligus sarana untuk merawat budaya lokal.
“Tahun ini kegiatannya semakin banyak dan kreatif. Terima kasih untuk anak-anak muda Kota Kupang atas dedikasi dan inovasinya. Kalung yang saya pakai hari ini adalah hasil karya komunitas muda di Kelapa Lima, bukti bahwa kreativitas anak Kota Kupang luar biasa,” ujar Jefri, Minggu (2/11/2025) malam.
Sekda Kota Kupang juga memberikan semangat, kepada para peserta lomba dalam festival tersebut. Menurutnya, yang dilihat pemerintah bukan juara, tetapi antusiasme dan keterlibatan generasi muda dalam menjaga dan merawat budaya Kota Kupang merupakan hal yang utama.
“Juara bukan ukuran. Begitu kalian mendaftar dan ikut berpartisipasi, kalian sudah menjadi juara. Terima kasih kepada adik-adik dan tim kreasi yang telah memperkaya motif tenun Sepe,” tambahnya.
Dijelaskan Sekda Jefri Pelt, Festival Sepe 2025 tidak hanya menjadi ajang seni, tetapi juga momentum untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Dengan diselenggarakannya Festival Sepe 2025, banyak UMKM yang meraup keuntungan. Artinya, Festival Sepe 2025 juga mampu menjadi penggerak roda ekonomi, khusus untuk para penenun dan penjual kain tenun motif Sepe.
“Mari kita pertahankan budaya, tingkatkan kreativitas, dan secara bersamaan menghidupkan ekonomi rumah tangga masyarakat,” tutup Jefri dengan penuh semangat.

Salah satu juri, Yurike Adu, menegaskan bahwa, Festival Sepe memiliki peran penting dalam proses regenerasi penenun di Kota Kupang.
“Kami ingin mengubah pandangan generasi muda bahwa menenun bukan sesuatu yang kuno. Justru dengan menenun, kita bisa menghasilkan karya yang bernilai tinggi dan modern. Harapannya, semakin banyak siswa dan mahasiswa terlibat dalam kegiatan ini,” ungkap Yurike.
Sementara itu, pelaku seni sekaligus penenun senior Berthania Lobo, menyampaikan mengapresiasi atas dukungan Pemerintah Kota Kupang terhadap keberlangsungan festival.
“Festival Sepe sudah menjadi ikon kota ini, dan kami sangat menyambut baik. Peserta dari kalangan SMA dan mahasiswa menunjukkan antusiasme luar biasa. Inilah harapan kita, agar terjadi regenerasi penenun di masa depan,” ujarnya.
Wanita yang akrab disapa Mama Bertha ini juga berharap, agar pemerintah terus memberikan perhatian dan pembinaan bagi para penenun lokal.

“Kami butuh pendampingan dan juga modal untuk mengembangkan kegiatan menenun. Terima kasih kepada Bapak Wali Kota dan Ibu Wakil Wali Kota, yang selalu mengenakan tenun Sepe. Itu sangat membantu kami dalam mempromosikan karya penenun khususnya yang ada di Kota Kupang,” katanya.
Melalui Festival Sepe 2025, semangat pelestarian budaya dan kreativitas lokal terus hidup di tengah masyarakat. Kota Kupang tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga menenun masa depan yang penuh warna dan harapan. (RKK/ADV)

