KUPANG, KN — Kelurahan Oeba kembali membuktikan perannya sebagai cermin pluralisme Kota Kupang melalui penyelenggaraan Festival Budaya ke-2 Tahun 2026.
Ajang tahunan ini berhasil memadukan selebrasi kerukunan lintas etnis dan agama dengan langkah konkret pemberdayaan ekonomi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Sejak sore hari, kawasan sekitar lokasi perhelatan dipenuhi riuk pikuk warga dari pelbagai penjuru kota.
Penampilan tarian etnis Flores yang dibawakan para penari berbusana adat merah menyambut kedatangan jajaran Pemkot Kupang secara sakral.
Di sekeliling panggung utama, deretan lapak UMKM menjajakan produk kuliner hingga kriya lokal, sementara area pelayanan publik memfasilitasi warga yang mengurus PBB-P2 serta pemeriksaan kesehatan secara gratis.
Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, saat meresmikan acara tersebut memberikan apresiasi tinggi atas tingginya partisipasi masyarakat Oeba yang dinilainya paling antusias selama rangkaian safari festival budaya di lingkup Kota Kupang.
“Terima kasih khusus untuk Kelurahan Oeba yang sudah mengadakan festival budaya ini. Antusias warganya luar biasa, ini mungkin termasuk yang paling ramai selama saya keliling festival budaya,” ujar dr. Christian.
Menyinggung komposisi demografi kawasan tersebut, Wali Kota mengibaratkan Kelurahan Oeba sebagai miniatur dari keberagaman yang ada di Kota Kupang.
Seluruh pemeluk agama, etnis, dan suku dapat hidup rukun dalam satu perjumpaan sosial.
“Kelurahan Oeba ini miniaturnya Kota Kupang. Tadi Pak Ketua Panitia menyampaikan ada semua agama, etnis, dan suku di sini. Keberagaman di Kota Kupang bukan jadi penghalang, tetapi jadi kekuatan. Bukan menjadi jarak pemisah, melainkan jembatan,” ucap Wali Kota.
Ia juga menggarisbawahi bahwa keselarasan hidup tidak menuntut penyeragaman identitas warga.
“Harmoni itu bukan berarti harus sama atau seragam. Kita tidak bisa menyamakan semua orang, tetapi kita bisa menjaga keseimbangan dan persatuan di antara kita,” tambahnya.









Tinggalkan Balasan