Tuntas meninjau calon venue utama voli putra dan putri, tim Reginald Christian Nelwan, Winston Rondo dan pengurus PBVSI dan KONI TTS bergabung lagi dengan kami di lapangan Puspenmas.

Dari sana kami diajak bupati TTS menuju ke sebuah restoran untuk makan siang bersama sekaligus melanjutkan diskusi mengenai beberapa hal penting terkait calon venue sepak bola putra dan voli putra putri.

Saya melirik jam tangan. Waktu menunjukkan pukul 13.05 Wita. Memang sudah tiba saatnya mengisi “kampung tengah” alias makan siang. Tak terasa kurang lebih dua jam penuh kami berada di lapangan.

Udara sejuk Kota Soe di puncak musim kemarau bulan Oktober rupanya membuat Renaldi Putra, Reginald dan Irfan Bachtiar jatuh hati.

“Enak banget udaranya. Saya nggak berkeringat sama sekali,” kata Renaldi Putra. Selama dua jam di Stadion Kobelete dan Puspenmas saya tak sekalipun melihat Renaldi menyeka wajahnya dengan sapu tangan atau tisu.

Irfan Bachtiar juga sangat senang bisa berkunjung ke Soe dan sangat menikmati udaranya yang sejuk. “Ini merupakan kunjungan pertama saya ke sini. Sungguh di luar ekspektasi. Saya tadinya berpikir udara panas seperti di Kupang, eh ternyata enak sekali,” kata Irfan Bachtiar.

Menurut Irfan, udara yang sejuk tentu memanjakan para atlet yang akan bertanding di ajang PON 2028 di Kota Soe. “Mudah-mudahan Kota Soe terpilih menjadi tuan rumah,” katanya.

Bagi kebanyakan masyarakat TTS dan Nusa Tenggara Timur umumnya, sejuknya Kota Soe tentu bukan sesuatu yang asing.

Berada di ketinggian hampir 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), Soe terkenal sebagai kota dingin di Pulau Timor. Dinginnya pada bulan Juli-Agustus nyaris serupa Bajawa dan Ruteng di Pulau Flores.

Di sela makan siang dalam suasana santai, Reginad Nelwan memberikan beberapa usul saran kepada Bupati TTS dan jajarannya mengenai pembenahan calon venue voli putra dan putri.

Reginald secara khusus mengingatkan mengenai kesiapan akomodasi pada saat pelaksanaan PON 2028 nanti. Ketersediaan air bersih dan pasokan daya listrik sangat penting.