Kupang, KN – Proyek Land4Lives yang diimplementasikan ICRAF Indonesia di Nusa Tenggara Timur (NTT) memasuki fase penutupan setelah berjalan selama lima tahun sejak 2021.
Pemerintah daerah didorong melanjutkan berbagai praktik baik yang telah dikembangkan bersama masyarakat, khususnya dalam menghadapi perubahan iklim dan membangun ketahanan pangan.
Kegiatan diseminasi tingkat Provinsi NTT menjadi momentum untuk menyampaikan capaian dan pembelajaran proyek kepada pemerintah daerah, mitra kabupaten dan desa, akademisi, sektor swasta hingga masyarakat luas.
Berbeda dengan kegiatan yang hanya berisi paparan, diseminasi Land4Lives juga menghadirkan ruang pameran. Peserta dapat melihat langsung berbagai produk, inovasi serta bukti perubahan yang dihasilkan selama pelaksanaan proyek.
Sekda NTT Fransiskus Sales Sodo mengatakan Land4Lives telah memberikan kontribusi bagi pemerintah daerah, khususnya di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
“Kita menyampaikan terima kasih kepada ICRAF khususnya terhadap penerapan program Land4Lives untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur, terutama untuk Kabupaten Timor Tengah Selatan,” kata Fransiskus kepada wartawan, Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, program yang berlangsung sejak 2021 hingga 2026 itu tidak hanya melakukan pendampingan kepada masyarakat desa, tetapi juga membantu membangun pemahaman masyarakat mengenai perubahan iklim dan ketahanan iklim.
“Bagaimana membangun komunitas masyarakat desa yang memahami soal perubahan iklim, kemudian bisa membangun ketahanan iklim, kemudian praktik bertani yang berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan,” ujarnya.
Salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan yakni sekolah lapang bagi perempuan. Program tersebut menjadi bagian dari upaya mengedukasi masyarakat sekaligus mendorong peningkatan pendapatan secara berkelanjutan dengan tetap menjaga lingkungan dan sumber daya tanah.
Fransiskus mengatakan pembelajaran dari Land4Lives juga telah diintegrasikan ke dalam sistem perencanaan pembangunan daerah.
“Program ini tidak hanya sekadar mendampingi masyarakat di desa, tetapi juga membantu pemerintah daerah dan mengintegrasikan praktik baik ini dengan sistem perencanaan pembangunan daerah, baik di Kabupaten TTS maupun di Provinsi NTT,” jelasnya.
Salah satu capaian yang disebutnya penting adalah tersusunnya master plan ekonomi hijau. Selain itu, sejumlah program Land4Lives juga telah diintegrasikan dalam RPJMD Kabupaten TTS serta dokumen perencanaan pembangunan daerah.
Karena proyek telah memasuki fase penutupan, Fransiskus berharap praktik baik yang telah dirasakan masyarakat tidak berhenti.
“Kita berharap program ini berakhir ketika sudah close, tetapi secara berkelanjutan, baik pemerintah desa, pemerintah kabupaten maupun provinsi berkomitmen untuk tetap terus melanjutkan praktik baik yang sudah dirasakan oleh masyarakat,” katanya.
Direktur ICRAF Indonesia Andree Ekadinata mengatakan pihaknya mengapresiasi kerja sama dengan Pemerintah Provinsi NTT selama lima tahun terakhir.
“Kami sangat bangga dan berterima kasih kepada Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur atas kerja sama yang sudah terjalin sejak tahun 2021 sampai sekarang dalam upaya bersama untuk membangun ketangguhan di Nusa Tenggara Timur terhadap iklim,” ujar Andree.
Menurutnya, pengalaman yang dikembangkan di Kabupaten TTS diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi daerah lain di NTT.
“Kami berharap apa yang sudah kita lakukan bersama dalam lima tahun terakhir, pertama di Kabupaten Timor Tengah Selatan, mudah-mudahan bisa menjadi contoh dan juga menjadi masukan untuk direplikasi di kabupaten-kabupaten lain oleh pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten,” katanya.
Andree menjelaskan ICRAF bersama pemerintah daerah berupaya mengarusutamakan ketahanan iklim ke dalam perencanaan pembangunan.
Dalam pelaksanaannya, ICRAF juga menggandeng mitra lokal, termasuk Yayasan Krisna dan YTM, untuk mengembangkan kegiatan di tingkat petani.
Kolaborasi juga dilakukan dengan perguruan tinggi. Salah satunya melalui konferensi Simpul Pangan Nusantara yang mempertemukan berbagai hasil penelitian terkait ketahanan pangan di NTT.
Selain itu, Land4Lives turut mendorong pengembangan kurikulum pendidikan mengenai pangan lokal.
“Ini adalah yang pertama kali di Indonesia dan dibangun di Nusa Tenggara Timur. Saat ini lewat bantuan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah akan direplikasi di berbagai daerah dengan mengambil pembelajaran dari Nusa Tenggara Timur,” jelas Andree.
Perwakilan Global Affairs Canada Alice Birnbaum mengatakan Pemerintah Kanada bangga dapat mendukung proyek Land4Lives sebagai bagian dari kerja sama antara Kanada dan Indonesia.
Menurut Alice, program tersebut memiliki keterkaitan dengan sejumlah prioritas bersama, antara lain ketangguhan iklim, kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.
“Kami sudah melihat secara langsung banyak petani sudah meningkatkan hasil pertanian mereka. Kami juga sudah melihat banyak perempuan jadi lebih aktif lagi berperan dalam masyarakat,” ujar Alice.
Fase penutupan Land4Lives selanjutnya menjadi momentum transisi keberlanjutan. Berbagai capaian yang telah dibangun bersama diharapkan dapat diteruskan pemerintah daerah, komunitas, mitra lokal, akademisi dan masyarakat, sehingga manfaat program tetap berjalan setelah proyek resmi berakhir. (*)









Tinggalkan Balasan