Menurut dia, dalam kondisi bencana, kebijakan pelonggaran pembayaran pinjaman bisa dihadirkan baik oleh regulator maupun bank. Saat ini Bank NTT proaktif memantau dan mendata usaha nasabah yang terdampak. Beberapa wilayah seperti Borong disebut menjadi daerah paling parah terdampak gempa. “Tapi sejauh ini mereka belum ajukan tapi kami data nasabah yang terdampak. Mereka belum ajukan tapi kami sudah lihat tempat usaha mereka rusak,” kata Charlie.

Ia menjelaskan, nasabah Bank NTT di wilayah Flores cukup banyak. Namun, hingga saat ini belum ada nasabah yang mengajukan skema penangguhan yang telah disiapkan. “Kurang lebih yang sudah kami data ada sekitar 52 atau 53 nasabah yang terdampak. Tapi mereka belum ajukan skema yang disiapkan Bank NTT,” tukas dia.

Sebelumnya, Direktur Kredit Bank NTT, Aloysius Geong, mengatakan data debitur terdampak bencana ini nantinya akan disampaikan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku pengawas industri keuangan.

Bank NTT berharap skema keringanan ini dapat membantu meringankan beban masyarakat Flores yang sedang bangkit dari dampak gempa. (*/ab)