KUPANG, KN — Pemerintah Kota Kupang secara resmi mengakhiri Rangkaian Kegiatan Digital Literacy Goes To SchoolTahap II yang ditandai dengan seremoni penutupan di T-More Hotel, Kupang, pada Jumat (4/9). Agenda ini diselenggarakan sebagai langkah strategis pemerintah daerah untuk menanamkan pemahaman akan penggunaan ruang siber yang aman, sehat, dan beretika di kalangan pelajar SD hingga SMP.

Suasana di dalam aula pertemuan hotel berlangsung meriah dan dipenuhi antusiasme ratusan pelajar. Para siswa yang mengenakan beragam seragam sekolah—mulai dari seragam putih-merah, putih-biru, batik, hingga pramuka—memadati ruangan dengan tertib. Di panggung utama, pimpinan dinas dan pejabat Pemkot Kupang berdiri berdampingan bersama perwakilan Mafindo serta para pendamping sekolah. Momen kebersamaan tersebut diabadikan melalui sesi foto bersama, tempat seluruh peserta dan jajaran pejabat secara serentak mengangkat tangan membentuk simbol “L” sebagai lambang gerakan literasi digital.

Hadir dalam penutupan kegiatan ini Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Kota Kupang, Hengky C. Malelak, S.STP., M.Si.; Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Kupang, Ariantje M. Baun, SE., M.Si.; Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Kupang, dr. Marsiana Y. Halek; perwakilan Koordinator Mafindo Kupang; para guru pendamping; serta jajaran panitia penyelenggara.

Dalam pengarahannya, Hengky C. Malelak mengingatkan bahwa penguasaan teknologi harus diimbangi dengan kontrol diri agar generasi muda terlindung dari maraknya ancaman perundungan siber (cyberbullying), penipuan daring, hingga potensi kebocoran data pribadi. Ia menekankan agar momentum deklarasi tidak berhenti sebagai acara formalitas belaka.

“Anak yang hebat di era digital bukan hanya soal pintar menggunakan teknologi, tetapi juga tahu kapan harus berpikir, kapan harus berhenti, dan kapan harus bertanggung jawab,” tegas Hengky di hadapan para peserta.

Ia mengimbau para pelajar agar tidak ragu bertindak tegas ketika menyaksikan perlakuan perundungan di media sosial dan senantiasa memperlakukan setiap pengguna jejaring sosial secara manusiawi.

“Kalau ada teman yang berbeda, jangan dihindari. Kalau ada yang melakukan kesalahan, jangan dipermalukan. Kalau melihat bullying, jangan ikut menertawakan. Bantu dan lakukan sesuatu untuk menghentikannya,” ajak Hengky.

Lebih lanjut, Pemkot Kupang mendorong sinergi yang makin erat antara pihak sekolah, orang tua, dan instansi Pemko dalam mengawal kebiasaan berinternet sehat bagi anak-anak agar lingkungan maya menjadi sarana belajar yang ramah dan aman.

“Saya ingin Kota Kupang menjadi rumah bersama, termasuk di ruang digital. Ruang digital harus menjadi tempat anak-anak kita tumbuh, bukan tempat anak-anak kita terluka. Gunakan teknologinya, tetapi jangan kehilangan kemanusiaannya,” pungkasnya. (agn)