Lebih jauh dari itu, lapisan tragedi lain kerap luput dari radar tanggap darurat, hal ini adalah hancurnya resiliensi psikologis masyarakat. Fokus tanggap darurat sering kali sudah terlalu habis energi untuk menangani luka dan patah tulang yang dialami, kemudian mengabaikan trauma psikologis dan sosial yang mendalam akibat kehilangan rumah, keluarga, dan rasa aman secara tiba-tiba. Warga dipaksa terus “kuat”, menelan luka batin mereka di bawah bayang-bayang ketidakpastian.
Di usia 81 tahun Indonesia ini, merombak paradigma nasional adalah sebuah urgensi seperti tanggap darurat bencana itu sendiri. Kita tidak lagi hanya bisa sekadar menambal-sulam masalah kesehatan sistemik di daerah kepulauan. Dibutuhkan penyiapan 3 sektor utama yang saya sebut sebagai Trisula Tanggap Darurat Kesehatan. Tombak bermata tiga ini adalah senjata utama yang digunakan secara bersamaan, tajam secara klinis, tajam secara sosiokultural, dan tajam dalam kolaborasi sistemik untuk menembus masalah krisis kesehatan di daerah kepulauan.

Pertama, tombak desentralisasi layanan klinis. Alih-alih bergantung pada pusat, setiap gugus pulau di NTT harus memiliki kemandirian logistik darurat. Secara klinis, tenaga kesehatan di daerah kepulauan juga dibekali kemampuan pertolongan pertama medis dan pertolongan pertama psikologis yang terintegrasi. Penanganan fisik dan kesehatan jiwa tidak boleh terpisah dalam situasi krisis darurat.

Kedua, pendekatan psikososial dan kultural. Intervensi kesehatan pascabencana tidak bisa datang sebagai pahlawan dari pusat yang tidak paham budaya setempat. Solusi penanganan trauma harus mengakar pada pendekatan kearifan lokal. Pemulihan jiwa masyarakat NTT pasca-gempa harus melibatkan struktur sosial di daerah tersebut. Kita perlu memberdayakan masyarakat secara sistematis sehingga mereka mampu memulihkan trauma secara terstruktur, bukan dibiarkan “mandiri” namun ditelantarkan.

Ketiga, kolaborasi sistemik dan pendidikan. Sistem kesehatan kepulauan membutuhkan sinergi lintas institusi yang konkret dari dunia pendidikan dan fasilitas layanan kesehatan. Kemitraan strategis dengan jaringan sistem layanan kesehatan baik dari puskesmas maupun rumah sakit daerah harus diperkuat menjadi basis penanganan darurat yang mandiri di tiap wilayah. Kurikulum pendidikan keperawatan pun perlu menyiapkan lulusan yang siap diterjunkan ke medan krisis kepulauan, bukan hanya mahir di bangsal rumah sakit perkotaan. Lulusan ini tidak hanya disiapkan untuk perlombaan menjadi tenaga kesehatan yang memenuhi kebutuhan masyarakat global yang lebih modern, namun mampu mendayagunakan dirinya dalam meningkatkan kesehatan pada masyarakatnya sendiri.