KUPANG, KN — Terik matahari pagi menyinari Lapangan Upacara Kantor Wali Kota Kupang saat barisan jajaran pejabat, unsur Forum Pembauran Kebangsaan, pimpinan perangkat daerah, hingga camat dan lurah berdiri berbaris rapi.
Di tengah panggung utama berlatar corak etnik merah-putih bertuliskan tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, jajaran pimpinan daerah tampil beda dengan balutan kain tenun khas Nusa Tenggara Timur bernuansa dominan hitam.
Sinar matahari pagi memantulkan keanggunan kain tenun ikat Manggarai yang dikenakan Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo bersama sang istri, dr. Widya Cahya, serta keindahan tenun Sikka yang dipakai Wakil Wali Kota Serena Francis.
Di hadapan 36 personel Paskibraka yang berdiri tegap, upacara bendera memperingati HUT ke-81 RI tersebut berlangsung anggun sekaligus diselimuti rasa empati mendalam.
Penggunaan pakaian adat Flores oleh jajaran pimpinan Kota Kupang tersebut bukan sekadar pilihan busana peringatan kemerdekaan semata, melainkan manifestasi pesan solidaritas bagi warga di kawasan Flores yang tengah dilanda musibah gempa bumi.
“Hari ini saya dan Ibu Wakil memilih pakaian adat Flores. Saya menggunakan pakaian adat Manggarai, sedangkan Ibu Wakil menggunakan pakaian adat Sikka. Ini bentuk dukungan dan doa kita untuk keluarga-keluarga yang terdampak bencana gempa bumi,” ungkap Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo usai memimpin jalannya upacara, Senin (17/8).
Wali Kota menegaskan bahwa pemilihan dasar warna hitam pada pakaian tradisional tersebut membawa simbol perdukaan mendalam atas jatuhnya korban jiwa dalam peristiwa bencana di wilayah terdampak.
“Dasarnya hitam, artinya kita turut berbela sungkawa kepada keluarga-keluarga yang telah meninggal dunia. Jadi, warna hitam ini melambangkan turut berbela sungkawa,” lugasnya.
Hal senada turut ditegaskan oleh Wakil Wali Kota Kupang, Serena Cosgrova Francis.
Melalui busana tenun khas Flores berwarna gelap yang dikenakannya, ia menyampaikan rasa empati dan harapan mendalam bagi pemulihan wilayah terdampak.
“Di tengah suasana duka atas gempa yang melanda Flores, Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momen untuk menundukkan hati dan menguatkan solidaritas. Hari ini, mengenakan nuansa hitam serta Tenun Flores sebagai bentuk penghormatan dan empati bagi saudara-saudara kita yang sedang berduka. Semoga Flores diberi kekuatan, ketabahan, dan pemulihan,” tutur Serena Francis.
Sebagai bentuk aksi nyata di lapangan, jajaran Pemerintah Kota Kupang kini tengah menyiapkan penggalangan donasi terpusat.
Langkah ini memperkuat berbagai aksi kepedulian yang telah lebih dulu diinisiasi secara sukarela oleh berbagai elemen warga, mulai dari kalangan tempat ibadah hingga organisasi kemasyarakatan di wilayah Kota Kupang.
“Banyak sekali yang bergerak. Ada partai politik yang sudah mulai mengumpulkan donasi, gereja-gereja, komunitas masyarakat. Jadi Kota Kupang tentu semua elemen masyarakat sudah bergerak. Sudah ada gereja-gereja yang membuka posko. Nanti Pemkot juga akan segera mengumpulkan donasi untuk kita bantu ke sana,” pungkas dr. Christian Widodo. (agn)









Tinggalkan Balasan