LABUAN BAJO, KN — Suasana fokus dan penuh kesigapan menyelimuti ruang pertemuan di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, saat Rapat Koordinasi Penanganan Bencana Gempa Bumi Flores digelar pada Minggu (16/08).
Ruangan yang dibentangi karpet merah dengan susunan meja persegi panjang berlapis kain hitam tersebut dipenuhi oleh pejabat lintas kementerian dan daerah.
Menko PMK Pratikno memimpin langsung jalannya rapat, didampingi Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, Kepala BNPB Suharyanto, Kepala Basarnas Mohammad Syafii, Gubernur NTT Melki Laka Lena, serta jajaran pimpinan TNI-Polri, BUMN, dan pemerintah kabupaten terdampak.
Di sela-sela paparan teknis, tampak perwira TNI berpakaian loreng dan jajaran kepolisian menyimak secara intensif di barisan depan, sementara para awak media dan petugas teknis mengabadikan momen koordinasi darurat tersebut.
Dalam rapat koordinasi lintas sektoral tersebut, Gubernur NTT Melki Laka Lena memaparkan kondisi terkini dari delapan kabupaten di Pulau Flores yang terkena dampak guncangan gempa bumi.
Pihaknya memberikan penekanan khusus pada tiga wilayah yang mengalami tingkat kerusakan terparah dan memerlukan bantuan logistik secara masif serta cepat.
“Wilayah yang membutuhkan dukungan segera adalah Manggarai, Manggarai Timur, dan Nagekeo, karena terdapat korban jiwa dan kerusakan cukup besar,” jelas Melki saat memaparkan data dampak bencana.
Gubernur membeberkan bahwa kebutuhan paling mendesak di lapangan saat ini meliputi tenda pengungsian, posko kesehatan, beras dan bahan pangan, makanan siap saji, obat-obatan, selimut, tikar, hingga pasokan air mineral.
Kebutuhan tenda menjadi sangat vital mengingat mayoritas warga masih memilih untuk bertahan di luar rumah karena rasa trauma akibat guncangan gempa susulan serta kekhawatiran atas keutuhan struktur bangunan tempat tinggal mereka.
Untuk mempercepat alur distribusi logistik ke titik-titik terisolasi, Pemprov NTT meminta pengerahan armada helikopter serta pembukaan akses jalur darat secara simultan.
Wilayah Nagekeo mendapatkan atensi tersendiri lantaran akses komunikasi lumpuh dan jaringan listrik terputus total.
Sejalan dengan itu, pihak PLN dan Telkomsel diinstruksikan untuk memprioritaskan pemulihan infrastruktur energi serta telekomunikasi di kawasan tersebut.
Langkah taktis juga disiapkan melalui jalur laut dengan memastikan kesiapan Pelabuhan Reo guna menyambut kedatangan bantuan armada kapal rumah sakit KRI dr. Soeharso serta pengiriman bantuan ke Manggarai Timur.
Pemerintah secara bersamaan terus mempercepat proses pendataan kerusakan fasilitas dan permukiman warga sebagai dasar pembangunan hunian sementara.
Untuk mendukung efektivitas operasi darurat, Posko Pendampingan Nasional kini dipusatkan di Labuan Bajo, sedangkan Posko Taktis dibuka di Maumere.
Usai gelaran rakor, rombongan pemerintah pusat dan daerah dijadwalkan langsung turun berpencar meninjau lokasi penampungan pengungsi dan infrastruktur terdampak di lapangan. (agn)









Tinggalkan Balasan