Menurut rencana, Rabu (5/8) pukul 10.00 jenazah dihantar ke Gereja Paroki Santa Maria Banneux Lewoleba. Kemudian, pada pukul 17.00 WITA dipersembahkan Misa Reqiuem di Paroki Baneux Lewoleba.

Pastor Nicholas Strawn SVD lahir 24 September 1934 di Cedar Rapids, Oelwein, Amerika Serikat. Ia lahir sebagai anak keempat pasangan Lone David Strawn berdarah Inggris (Wales) dan Loreta Bauer, berdarah Jerman.

Almarhum memiliki saudara dan saudari kandung: Loren Jr, Dale, Delbert (kakak) serta Allan dan Paul (adik). Pada 20 Oktober 1963, saat berusia 28 tahun ia bertolak dari Pelabuhan San Fransisco menumpang Kapal SS President Madison.

Dari USA ia membawa 16 buah peti berisi obat-obatan, buku, dan pakaian sebagai bekal awal karya misionernya di Indonesia. Setelah berlayar selama dua bulan 11 hari, pada 4 Desember 1963 Paster Nicholas tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Ia dijemput Pater Yosef Diaz Vera, SVD. Saat itu, situasi politik dalam negeri kurang kondusif sehingga kedua imam SVD ini sepakat sebelumnya agar saat ketemu di Tanjung Priok, mereka mengenakan jubah.

Ternyata dengan mengenakan jubah semua urusan di pelabuhan lancar hingga tiba di Soverdi, Matraman, Jakarta Timur. Pastor Nicholas kemudian naik kereta api menuju Surabaya, Jawa Timur.

Pada 12 Desember 1963 ia naik KM Stella Maris menuju Ende, Flores. Dalam Stella Maris ada dua rekan imam jadi teman seperjalanan yaitu Pastor Marinus Krol, SVD dan Pastor Frans Lachner, SVD (Pastor Lackner kini tinggal dan melayani umat Katolik di Pulau Sabu) serta 6 suster 3 dari biara CIJ dan 3 SSpS. Namun tiba-tiba musibah datang. Menjelang memasuki perairan Madura, terjadi kebakaran dalam kapal Stella Maris.

Dalam situasi yang panik 16 peti yang dibawa Pastor Nicholas dari Amerika dibuang semua ke laut. Untungnya, musibah itu dapat diatasi berkat keberanian stirman kapal, Kapten Sina Unarajan dari Lewuka, Kecamatan Wulandoni.

”Saya sangat kecewa dan shock. 16 peti sebagai bekal awal sebagai misionaris terkubur di dasar laut. Saya seolah datang ke tanah misi dengan tangan kosong,” kata Pastor Nicholas suatu kali.