Selain penataan ekonomi dan sanitasi, agenda utama workshop ini berfokus pada evaluasi penanganan anak zero-dose—yakni anak-anak yang belum pernah menerima imunisasi dasar sama sekali.
Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, menyampaikan apresiasi tinggi atas kolaborasi solid antara Pemprov NTT, Pemkot Kupang, dan UNICEF.
Menurutnya, sejak diluncurkan pada tahun 2024, kemitraan strategis ini berhasil mencatatkan capaian signifikan hingga 64 persen di wilayah prioritas.
“Ini menunjukkan bahwa perubahan nyata dapat diwujudkan ketika ada kerja sama yang kuat. Namun pekerjaan kita belum selesai, masih ada anak-anak yang belum melengkapi imunisasi. Setiap anak berhak memperoleh perlindungan kesehatan. Investasi pada anak-anak merupakan investasi bagi masa depan Indonesia,” ujar Rod Brazier.
Program penanganan zero-dose di NTT ini mengombinasikan metode Survei Cepat Komunitas (SCK), penyuluhan lintas sektor, dan penguatan layanan primer di puskesmas.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, drg. Retnowati, menyatakan optimistis dapat mengikis habis angka zero-dose di Ibu Kota Provinsi NTT hingga mencapai nol persen.
Berkat kerja sama intensif bersama TP PKK, tokoh agama, serta organisasi kemasyarakatan, jumlah anak yang belum divaksinasi mengalami penurunan drastis.
“Target kami adalah tidak ada lagi anak di Kota Kupang yang tidak mendapatkan imunisasi. Saat ini jumlahnya sudah turun signifikan, dari sekitar 1.200 anak kini tersisa lebih dari 300 anak yang terus kami kejar melalui tindakan sweeping dan pelayanan langsung di lapangan,” pungkas drg. Retnowati. (agn)



Tinggalkan Balasan