Ia menambahkan bahwa manajemen risiko bencana tingkat daerah membutuhkan sinergitas terpadu dari segenap elemen masyarakat dan mitra internasional.

“Penanggulangan bencana tidak mungkin dilakukan oleh pemerintah sendiri. Dibutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi hingga mitra pembangunan. Karena itu kami sangat mengapresiasi dukungan Pemerintah Australia yang terus memperkuat ketangguhan daerah melalui Program SIAP SIAGA,” ungkapnya.

Sementara itu, Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Brazier, memuji resiliensi warga NTT yang dinilainya tetap tangguh meski berulang kali diterpa bencana besar, mulai dari badai Siklon Tropis Seroja hingga erupsi gunung berapi.

“Australia bangga menjadi mitra Indonesia dalam memperkuat ketangguhan terhadap bencana. Melalui Program SIAP SIAGA, kami mendukung pemerintah, masyarakat, dan berbagai lembaga untuk membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih siap, inklusif, dan mampu melindungi masyarakat yang paling rentan,” kata Brazier.

Melalui penguatan inovasi data, pembentukan SOP layanan darurat, hingga koordinasi lintas sektoral ini, kerja sama NTT dan Australia diharapkan mampu menciptakan sistem mitigasi bencana yang semakin tanggap dan tangguh di wilayah kepulauan Nusa Tenggara Timur. (agn)