KUPANG, KN — Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, mendampingi kunjungan kerja Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Brazier, saat meninjau Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Provinsi NTT yang berlokasi di Kompleks NTT Fair Lasiana, Kota Kupang, pada Jumat (31/7). 

Kunjungan strategis ini menjadi momentum penting dalam memperkokoh kolaborasi bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Australia untuk meningkatkan ketangguhan daerah menghadapi risiko bencana alam.

Suasana di lokasi peninjauan tampak dinamis dan penuh keakraban. Rombongan yang turut didampingi Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTT Mahadin Sibarani, Kepala Pelaksana BPBD Kota Kupang Ernest Ludji, serta Koordinator Program SIAP SIAGA Wilayah NTT Silvia Fanggidae, disambut hangat oleh jajaran petugas operasional Pusdalops. 

Para petugas dengan antusias memperagakan simulasi pemantauan kebencanaan berbasis teknologi digital yang bekerja selama 24 jam nonstop di ruang komando.

Dalam peninjauan tersebut, Gubernur Melki dan Dubes Brazier menyaksikan secara langsung demonstrasi pemantauan aktivitas 16 gunung api aktif di NTT, dengan perhatian khusus pada Gunung Lewotobi Laki-Laki, Gunung Lewotolok, dan Gunung Iya. 

Petugas memaparkan sistem pelacakan gempa secara real-time, pemantauan cuaca ekstrem, hingga analisis arah sebaran abu vulkanik guna memastikan keamanan jalur penerbangan di wilayah Flores dan sekitarnya. 

Selain itu, rombongan juga meninjau operasional aplikasi INATANA (Informasi Data Bencana Nusa Tenggara)—sebuah platform pusat data terpadu hasil kolaborasi dengan Program SIAP SIAGA yang menghubungkan 22 BPBD kabupaten/kota di NTT—serta layanan call center penanganan darurat rabies.

Di sela-sela kegiatan, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyampaikan apresiasi mendalam atas konsistensi Pemerintah Australia dalam mendampingi pembangunan kapasitas ketangguhan daerah di wilayahnya.

“Terima kasih atas komitmen Pemerintah Australia yang selama ini terus mendampingi NTT melalui Program SIAP SIAGA. Dukungan tersebut telah memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat kapasitas kelembagaan BPBD, pengembangan sistem informasi kebencanaan, peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, hingga penguatan koordinasi lintas sektor dalam menghadapi berbagai ancaman bencana,” tegas Gubernur Melki.

Ia menambahkan bahwa manajemen risiko bencana tingkat daerah membutuhkan sinergitas terpadu dari segenap elemen masyarakat dan mitra internasional.

“Penanggulangan bencana tidak mungkin dilakukan oleh pemerintah sendiri. Dibutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi hingga mitra pembangunan. Karena itu kami sangat mengapresiasi dukungan Pemerintah Australia yang terus memperkuat ketangguhan daerah melalui Program SIAP SIAGA,” ungkapnya.

Sementara itu, Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Brazier, memuji resiliensi warga NTT yang dinilainya tetap tangguh meski berulang kali diterpa bencana besar, mulai dari badai Siklon Tropis Seroja hingga erupsi gunung berapi.

“Australia bangga menjadi mitra Indonesia dalam memperkuat ketangguhan terhadap bencana. Melalui Program SIAP SIAGA, kami mendukung pemerintah, masyarakat, dan berbagai lembaga untuk membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih siap, inklusif, dan mampu melindungi masyarakat yang paling rentan,” kata Brazier.

Melalui penguatan inovasi data, pembentukan SOP layanan darurat, hingga koordinasi lintas sektoral ini, kerja sama NTT dan Australia diharapkan mampu menciptakan sistem mitigasi bencana yang semakin tanggap dan tangguh di wilayah kepulauan Nusa Tenggara Timur. (agn)