KUPANG, KN — Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jefry Edward Pelt, SH, menghadiri perayaan syukur hari jadi ke-13 GMIT Hosana Batuplat. Momentum bahagia yang dipadukan dengan acara kumpul keluarga jemaat ini dilangsungkan di Gedung Kebaktian GMIT Hosana Batuplat pada Minggu (7/6).
Acara tersebut turut dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, di antaranya Bupati Kupang Yosef Lede, Anggota DPRD Kota Kupang Esy Meliana Bire, Wakil Ketua Majelis Klasis Kota Kupang Pdt. Jes Djo Maga, serta Ketua Majelis Jemaat GMIT Hosana Batuplat Pdt. Desy Hayer-Maarisit. Hadir pula para pendeta se-Klasis Kota Kupang, kaum emerita/emeritus, jajaran pimpinan OPD Kabupaten Kupang, serta seluruh jemaat.
Saat menyampaikan arahannya, Sekda Jefry Edward Pelt menuturkan rasa syukur atas perjalanan panjang pelayanan gereja yang kini genap berusia 13 tahun. Atas nama Pemerintah Kota Kupang, ia memberikan apresiasi tinggi terhadap andil nyata gereja dalam menata kehidupan rohani, mempererat tali persaudaraan, sekaligus menyokong pembangunan sosial daerah.
Sekda Jefry menggarisbawahi bahwa gereja memegang peranan penting sebagai mitra strategis pemerintah dalam membentuk kepribadian umat dan memupuk solidaritas sosial demi mewujudkan warga yang rukun serta sejahtera.
“Kami mengucapkan selamat ulang tahun ke-13 untuk GMIT Hosana Batuplat. Semoga tempat ibadah ini terus berkembang dalam keyakinan, semakin kokoh dalam melayani, dan senantiasa membawa berkat bagi sesama,” ungkap Sekda Jefry.
Senada dengan hal itu, Bupati Kupang Yosef Lede, SH, memuji dedikasi GMIT Hosana Batuplat yang konsisten membina jemaat dan memperkokoh ikatan kekeluargaan. Ia memandang gereja bukan sekadar ruang ritual keagamaan, melainkan sentra penggodokan karakter dan peningkatan mutu sumber daya manusia. Bupati Yosef berharap usia baru ini menjadi pemantik untuk memperkuat kolaborasi antara pihak gereja, warga, dan pemerintah daerah.
Di sisi lain, Wakil Ketua Majelis Klasis Kota Kupang, Pdt. Jes Djo Maga, S.Th., M.Th., dalam pesan rohaninya mengajak seluruh jemaat memanfaatkan momen ini untuk merenungkan kembali kebaikan Tuhan. Ia mengingatkan bahwa kemajuan gereja yang sejati tidak dinilai dari penampilan fisik atau angka usia semata, melainkan dari kedalaman iman serta kepedulian terhadap sesama di tengah dinamika zaman.
Rangkaian ibadah syukur berjalan dengan penuh kedamaian dan kehangatan, diwarnai kidung pujian serta doa bersama yang merekatkan rasa kebersamaan seluruh undangan yang hadir. (agn)





Tinggalkan Balasan