KUPANG, KN – Jemaat GMIT Maranatha Oebufu sukses menggelar malam pagelaran kesenian dalam rangka penutupan Bulan Budaya Tahun 2026. Acara yang berpusat di Halaman Gereja Maranatha Oebufu ini berlangsung meriah pada Senin (1/6) mulai pukul 17.00 WITA.

Suasana malam penutupan dipadati oleh ratusan orang yang memenuhi venue acara. Selain jemaat Maranatha Oebufu dan jemaat tamu undangan, sejumlah tokoh penting turut hadir menyaksikan pergelaran ini. Di antaranya adalah Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, Camat Oebobo serta Pelaksana Harian (Plh) Kelurahan Oebufu, Mario Aka. Dari unsur kerohanian, tampak hadir Ketua Majelis Jemaat Maranatha Oebufu, Pdt. Yusuf Nakmofa, M.Th., serta Ketua Sinode GMIT, Pdt. Samuel Benyamin Pandi, S.Th.

Acara malam ini dikemas apik dengan menampilkan seni budaya dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT). Tidak hanya itu, panitia juga menyediakan stan bazar UMKM berbentuk lopo di beberapa titik venue yang menjajakan pangan lokal serta kain tenun adat. Kemeriahan acara semakin lengkap dengan adanya pembagian doorprize bagi para pengunjung yang hadir.

Dalam khotbah dan refleksinya, Pdt. Flora F. Welvart-Manafe, S.Th., menyampaikan bahwa keberagaman latar belakang suku di dalam jemaat justru menjadi berkah serta kekuatan yang mempersatukan.

“Perbedaan yang ada membuat jemaat GMIT Maranatha Oebufu kaya. Kaya akan orang-orangnya, ilmu dan pengetahuannya, talenta, dan terlebih kaya akan iman kepada Yesus Kristus,” ungkap Pdt. Flora. 

Ia menambahkan bahwa momentum Bulan Budaya yang ditetapkan oleh Sinode GMIT ini menjadi ruang bagi setiap etnis untuk mempersembahkan karya terbaik bagi kemuliaan nama Tuhan.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Majelis Jemaat, Pdt. Yusuf Nakmofa, M.Th., mengingatkan jemaat untuk terus merawat warisan leluhur yang sarat akan nilai-nilai luhur.

“Kiranya semua karya budaya yang telah kita persembahkan sepanjang Bulan Budaya tahun ini, yang telah diajarkan oleh orang tua kita sejak berabad-abad yang lalu, mari kita jaga dan pelihara karena itu semua datangnya dari Tuhan,” pesan Pdt. Yusuf sembari menekankan pentingnya mengelola anugerah ragam budaya ini dengan hikmat Tuhan. 

Melalui semangat kebudayaan ini, jemaat diajak untuk senantiasa membangun persekutuan yang rukun dengan penuh rasa cinta, serta menyerahkan seluruh rangkaian acara malam tersebut ke dalam tangan Tuhan Yesus.

Apresiasi juga datang dari generasi muda gereja yang mengikuti rangkaian acara sejak awal. Aldi, salah satu pemuda jemaat GMIT Maranatha Oebufu yang hadir, mengungkapkan kebanggaannya.

“Sebagai pemuda, kami merasa bangga karena melalui Bulan Budaya ini kami bisa lebih mengenal dan mencintai identitas serta budaya kami sendiri. Semoga ruang-ruang kreativitas budaya seperti ini terus dipertahankan agar generasi muda tidak kehilangan jati dirinya,” ujar Aldi singkat di sela-sela acara penutupan. (agn)