Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Ngada Kila Patrisius selaku narasumber dalam kegiatan tersebut mengatakan jika kita berbicara TV analog seperti yang ditayangkan, bahwa TV analog itu gambarnya pecah-pecah, bintik-bintik, seperti yang kita nonton masa kecil.

Tapi menurutnya, di era yang sekarang ini oran mau nonton yang lebih jernih, bersih.

“Mengapa? TV mendekatkan apa yang jauh dan apa yang terjadi diluar sana kita disini kita tau. Tapi kalau apa yang terjadi disana lalu kita nonton bintik ya untuk apa maka saya ucapkan terima kasih kepada pemerintah indonesia melalui Kemkominfo telah mencanangkan dari TV analog ke TV digital,” jelas Patrisius dalam pemaparan materinya.

Dikatakannya, TV analog itu seperti yang kita nonton saat ini, sebab di Ngada ada juga TV digital tetapi peralatan itu yang kita belum punya.

“Kita orang Ngada dengan kemampuan ekonomi kita yang terbatas. Pemerintah mencanangkan TV digital itu adalah satu frekuensi itu untuk beberapa chanel TV, jadi tinggal kita geser saja tapi frekuensinya tetap dan tidak berubah, itu keuntungannya,”

Ole karena itu menurutnya, sebaga keterwakilan dari Pemkab Ngada melalui dinas kominfo Ngada, akan siap membantu masyarakat Kabupaten Ngada untuk melayani semua pertanyaan maupun datang ke kantor tentang bagaimana informasi tentang seputaran TV analog ke TV digital,

“Saya ucapkan terima kasih kepada Kemkominfo RI bahwa untuk Kabupaten Ngada tahun ini di alokasikan 12 buah tower hingga jumlah seluruhnya sudah 80 tower meskipun itu belum apa-apa dan itu kami harus tetap meminta baik BST maupun jaringan internetnya,”tutupnya.

Sementara Agung Suprio selaku Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI ) Pusat juga menyampaikan bahwa pentingnya TV Digital di masa sekarang di banding TV Analog

“Urgensinya pindah dari TV analog ke TV digital, yang pertama bahwa, satu frekuensi itu hanya satu TV jadi kalau di Jakarta itu ada 18 TV Nasional berjaringan termasuk TVRI itu boros pakai 18 frekuensi, tapi kalau pakai digital frekuensi itu di press karena lebih digital, satu frekuensi bisa maksimum 12 TV , jadi kalau ada 18 TV yang saya gambarkan di Jakarta sesungguhnya kita hanya bisa makai du frekuensi itu pun masih lebih dari jumlah sistem dan kualitas gambarnya lebih jernih,” jelasnya.