Sebagai seorang laki-laki dan ayah, Hendrikus juga menangkap pesan tentang pentingnya tanggung jawab seorang suami dalam memahami istri dan anak-anaknya.

Ia mengingatkan bahwa kesenangan dan pergaulan di luar rumah harus tetap memiliki batas agar tidak menjadi sumber persoalan yang merusak hubungan keluarga.

“Sebagai suami ada batas-batas sosial yang kita harus tahu diri,” pungkasnya.

Perempuan Harus Mandiri dan Berani Bersuara
Pandangan lain disampaikan penonton, Astary Folla. Ia menilai Beautiful Pain membawa pesan kuat mengenai pentingnya kemandirian perempuan, baik secara ekonomi maupun dalam menentukan sikap ketika menghadapi persoalan.

Menurut Astary, perempuan perlu memiliki penghasilan dan kekuatan sendiri agar mampu berdiri secara mandiri. Kemandirian tersebut juga penting ketika perempuan menghadapi persoalan dalam rumah tangga maupun lingkungan sosial.

“Perempuan harus punya power sendiri, punya penghasilan sendiri dan harus berani bicara. Dia harus berani menyampaikan apa yang dialami dalam rumah tangga,” kata Astary.

Selain menyoroti posisi perempuan, Astary juga melihat pesan penting dari sudut pandang anak. Ia menilai anak tidak seharusnya terburu-buru menyalahkan atau menuntut orang tua tanpa memahami persoalan yang sebenarnya sedang mereka hadapi.

“Sebagai anak, kita juga tidak boleh langsung menuntut atau menyalahkan orang tua karena kita tidak tahu apa yang mereka alami dan masalah yang sedang mereka hadapi,” ujarnya.

Astary menegaskan, keberanian bersuara menjadi sangat penting ketika seorang perempuan mengalami pelecehan. Korban perlu mendapatkan ruang dan dukungan untuk menyampaikan pengalaman serta memperjuangkan haknya.

“Ketika perempuan mendapatkan pelecehan, perempuan harus berani bicara tentang apa yang dia rasakan dan harus berani melaporkan apa yang dialami,” tegas Astary.

Menurutnya, pesan tersebut menjadi salah satu pelajaran penting dari Beautiful Pain, terutama dalam mendorong perempuan agar tidak takut mengungkapkan pengalaman yang dialami dan memperjuangkan haknya.