Jakarta, KN — Misionaris asal Amerika Serikat Pastor Nicholas Strawn, SVD (92) Selasa (4/8) pukul 12.20 WITA ia menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit (RS) Bukit Lewoleba, Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur. Imam SVD yang di masa kecil disapa Nicky Strawn menghembuskan nafas dalam usia 92 tahun.

Kabar berpulangnya Pastor Nicholas tak hanya membawa rasa sedih tetapi juga rasa syukur kepada Tuhan atas karya Agung-Nya melalui imam kesayangan yang telah melayani umat Katolik di Keuskupan Larantuka.

“Selamat jalan, Pater Niko. Terima kasih atas pengabdian tanpa pamrihmu bagi umat Tuhan di Lembata. Selamat beristirahat dalam damai kekal di surga,” ujar Justin Wejak, warga diaspora sekaligus admin grup WhatsApp Ata Lembata di Melbourne, Australia, Selasa (4/8).

Justin mengisahkan, ia pertama kali bertemu Pastor Nicholas Strawn SVD di Lewokukung tahun 1970-an. Saat itu, Pastor Nicholas datang bersama Pastor Eugene Schmitz, SVD ke stasi Lewokukung, Paroki Kalikasa untuk Misa bulanan.

“Saat itu, Pastor Schmitz adalah Pastor Paroki Kalikasa. Saat bertemu dengan tuan (Pastor) Niko, saya masih duduk di bangku SDK. Saya cukup rajin menjadi ajuda hampir setiap kali ada Misa di stasi kami,” kata Justin, dosen Kajian Asia Universitas Melbourne.

Menurut Justin, kala itu ia cukup mengenal kedua Imam Tuhan asal Amerika Serikat ini. Justin mengaku semakin dekat dan akrab dengan kedua misionaris ini saat ia masuk Seminari San Dominggo Hokeng awal 1980-an.

Justin ingat, dua kali buku rapornya dari SMA Seminari harus ditunjukkan kepada Pater Niko. Saat itu, beliau menangani dua paroki sekaligus yaitu Paroki Lerek dan Paroki Kalikasa karena Pater Schmitz sedang cuti di kampung halamannya.

“Pater Niko harus mengomentari dan menandatangani buku rapor saya. Saya ingat nasihatnya saat itu. ‘Anak, jaga nilai-nilaimu supaya tetap tinggi ya? Tidak boleh turun. Rajin belajar dan rajin berdoa.’ Beberapa tahun silam, beliau sempat singgah di Melbourne saat pulang cuti dari AS,” kata Justin.

Sayangnya, lanjut Justin, saat itu ia tidak sempat menjumpai Pastor Niko. Berbeda dengan Pater Schmitz yang pernah ia temui di Melbourne awal 1990-an saat ia dalam perjalanan pulang cuti dari AS.

Justin juga menitip doa sekaligus terima kasih atas pelayanan tanpa pamrih Pater Niko bagi umat Tuhan di Lembata. Pater Niko tetap dikenang sebagai “the smiling priest“, imam Tuhan yang selalu tersenyum saat melayani umat.

“Nama ‘konok’ (tempurung kelapa sebagai pengganti gelas untuk minum tuak, moke) yang disandangkan pada dirimu menandakan kedekatanmu dengan umat. Minum tuak se-konok (se-tempurung kelapa) dengan umat. Pana dialus mo je Alapsa mai, tuan! May you rest in love and peace. Best regards to tuan Eugene Schmitz SVD,” kata Justin.

Sedangkan Ansel Deri, admin Ata Lembata lainnya mengaku sedih dan bangga sekaligus bersyukur atas sosok misionaris asal USA, Pastor Nicholas Strawn, SVD. Selama 18 tahun menjadi Pastor Paroki Santu Joseph Boto, Lembata, Pastor Niko adalah sosok imam yang melayani umat sepenuh hati.

“Usai Misa kami anak-anak diajak ke pastoran. Beliau menyuruh kami berbaris di depan pastoran lalu dibagikan blis (permen) untuk isap. Selain itu, ia menceritakan kembali isi Majalah TIME kepada kami agar tahu informasi dunia. Itulah yang mengantar saya menjadi penulis lepas di media sejak semester tiga di bangku kuliah,” kata Ansel, yang belakangan menjadi jurnalis dan penulis buku.

Ansel juga mengaku, ia nekat berdiri di depan ‘PLN’ sekadar mencium bau asap dari ‘PLN’ (genset) milik Pastor Nicholas yang dibawa dari Paroki Lerek untuk membantu penerangan saat Misa Natal atau Paskah di Stasi Boto, kampung halamannya.

“Bapa saya pernah antar dendeng babi dan rusa untuk Pater Niko. Setelah melihat genset milik Pater Niko ayah kembali rumah. Tapi ia mengingatkan saya agar ‘kalau ke pastoran, jangan berdiri dekat PLN (genset) milik Pater Niko. Nanti kena strom’. Ini cerita Almarhum ayah yang masih membekas hingga saat ini. Selamat jalan, bapa tuan Niko. Terima kasih atas kebaikanmu kepada umat di Lembata khususnya di Lerek dan Boto. Damailah di sisi-Nya,” kata Ansel.

Berdasarkan informasi yang ditujukan kepada para imam, frater, diakon, biarawan, biarawati, dan umat Katolik Dekanat Lembata, Senin (4/8) malam jenazah Pastor Nicholas disemayamkan di RS Bukit Lewoleba.

Menurut rencana, Rabu (5/8) pukul 10.00 jenazah dihantar ke Gereja Paroki Santa Maria Banneux Lewoleba. Kemudian, pada pukul 17.00 WITA dipersembahkan Misa Reqiuem di Paroki Baneux Lewoleba.

Pastor Nicholas Strawn SVD lahir 24 September 1934 di Cedar Rapids, Oelwein, Amerika Serikat. Ia lahir sebagai anak keempat pasangan Lone David Strawn berdarah Inggris (Wales) dan Loreta Bauer, berdarah Jerman.

Almarhum memiliki saudara dan saudari kandung: Loren Jr, Dale, Delbert (kakak) serta Allan dan Paul (adik). Pada 20 Oktober 1963, saat berusia 28 tahun ia bertolak dari Pelabuhan San Fransisco menumpang Kapal SS President Madison.

Dari USA ia membawa 16 buah peti berisi obat-obatan, buku, dan pakaian sebagai bekal awal karya misionernya di Indonesia. Setelah berlayar selama dua bulan 11 hari, pada 4 Desember 1963 Paster Nicholas tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Ia dijemput Pater Yosef Diaz Vera, SVD. Saat itu, situasi politik dalam negeri kurang kondusif sehingga kedua imam SVD ini sepakat sebelumnya agar saat ketemu di Tanjung Priok, mereka mengenakan jubah.

Ternyata dengan mengenakan jubah semua urusan di pelabuhan lancar hingga tiba di Soverdi, Matraman, Jakarta Timur. Pastor Nicholas kemudian naik kereta api menuju Surabaya, Jawa Timur.

Pada 12 Desember 1963 ia naik KM Stella Maris menuju Ende, Flores. Dalam Stella Maris ada dua rekan imam jadi teman seperjalanan yaitu Pastor Marinus Krol, SVD dan Pastor Frans Lachner, SVD (Pastor Lackner kini tinggal dan melayani umat Katolik di Pulau Sabu) serta 6 suster 3 dari biara CIJ dan 3 SSpS. Namun tiba-tiba musibah datang. Menjelang memasuki perairan Madura, terjadi kebakaran dalam kapal Stella Maris.

Dalam situasi yang panik 16 peti yang dibawa Pastor Nicholas dari Amerika dibuang semua ke laut. Untungnya, musibah itu dapat diatasi berkat keberanian stirman kapal, Kapten Sina Unarajan dari Lewuka, Kecamatan Wulandoni.

”Saya sangat kecewa dan shock. 16 peti sebagai bekal awal sebagai misionaris terkubur di dasar laut. Saya seolah datang ke tanah misi dengan tangan kosong,” kata Pastor Nicholas suatu kali.

Kapal Stella Maris akhirnya kembali ke Surabaya untuk diperbaiki dan baru berangkat lagi tanggal 28 Desember 1963. Tanggal 31 Desember 1963 ia tiba di Ende lalu dijemput Pater Regional Nikolaus Apeldorn, SVD. Di Ende, Pater Nicholas mendapat tugas berkarya di Lomblen (kini Lembata).

Dari Ende Pater Nico menumpang KM St Theresia menuju Larantuka ditemani Bruder Marianus, SVD. Setelah bertemu dengan Uskup Larantuka, Mgr Anthonius Thijjssen, SVD dengan Motor Siti Nirmala, Pater Nicholas didampingi Pater Lorens Hambach, SVD menuju Lewoleba diterima Dekan Lomblen, Pastor Ben Brabander, SVD.

Saat datang pertama kali ke Paroki Hati Kudus Lerek, semua orang berdecak kagum melihatnya. Gagah, ganteng apalagi sedang menunggang kuda atau sedang melaju dengan sepeda motornya.

Ia tampak begitu lembut, damai bersahaja, selalu senyum, ramah dan sangat bersahabat. Ia selalu tampil rapih dan tenang, tanpa ada kesan grasa-grusu atau mau buru-buru.

Sejak Februari 1964 Pater Nicholas menjadi Pastor Paroki Lerek selama 24 tahun, sebelum pindah ke Paroki Boto tahun 1987. Ia bertugas di Boto selama 17 tahun. Umat di kedua paroki ini sangat mengenal dekat dengan gembalanya. Pater Niko begitu dekat dan menyatu dengan umatnya. (ansel deri)