Warga berhak menuntut hasil. Tetapi tuntutan itu akan lebih kuat jika disertai pemahaman atas kondisi keuangan daerah.
Ada perbedaan besar antara pemerintah yang tidak bekerja dan pemerintah yang bekerja dalam kondisi fiskal sempit. NTT saat ini tampaknya lebih dekat pada kategori kedua.
Fakta bahwa penerimaan pajak kendaraan meningkat tajam menunjukkan bahwa kebijakan yang awalnya dibenci belum tentu salah. Ia mungkin tidak nyaman, tetapi mulai memberi hasil bagi kas daerah. Dalam situasi krisis fiskal, keberanian mengambil kebijakan tidak populer kadang lebih penting daripada sekadar menjaga popularitas.
Masyarakat NTT tentu boleh kecewa terhadap lambatnya pembangunan. Namun penilaian terhadap pemerintahan Melki Laka Lena sebaiknya tidak berhenti pada kemarahan di media sosial. Yang dibutuhkan sekarang adalah kritik yang cerdas, pengawasan yang ketat, dan kesadaran bersama bahwa memperbaiki NTT tidak cukup hanya dengan mencaci pemerintah; daerah ini juga membutuhkan kepatuhan pajak, disiplin fiskal, dan partisipasi publik yang rasional.
Krisis fiskal memang tidak bisa diselesaikan dengan slogan. Tetapi data penerimaan pajak Juli 2026 memberi satu pesan penting: ketika kebijakan dijalankan konsisten dan masyarakat mulai patuh, ruang fiskal NTT perlahan dapat diperbaiki.
Menilai pemerintahan Gubernur Melki Laka Lena tidak cukup hanya dari kemarahan di media sosial. Kritik tetap penting dalam demokrasi, tetapi kritik yang sehat harus berpijak pada fakta fiskal, bukan semata persepsi. (jdz)



Tinggalkan Balasan